Kliping Email Group

Ketika TUHAN Sulit Dipahami

Share on :
http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Seorang saudagar kaya raya –konglomerat- dengan beberapa anak, hidup terpandang dengan status sosial jauh di atas rata-rata orang di jaman itu, tiba-tiba saja ditimpa kemalangan yang mengerikan. Hartanya ludes seketika. Anak-anaknya terbunuh seluruhnya. Dirinya sendiri tertimpa penyakit langka, borok memenuhi sekujur tubuhnya. Seperti pribahasa : sudah jatuh tertimpa tangga, tertimpa pohon, tergigit ular berbisa. Namun yang paling menyedihkan dari itu semua adalah makian istri tercintanya : "Mau apa lagi? Kutuki saja TUHAN, lalu mati sana..!" Itu kisah nyata, yang pernah terjadi pada sebuah episode kehidupan seseorang, Ayub namanya.


Kalimat : TUHAN Maha Pengasih dan Penyayang, mungkin sudah tak terhitung jumlahnya terdengar ditelinga. Namun ketika sebuah pesawat melayang menghantam sederetan rumah, dan menewaskan cukup banyak orang tak berdosa : diantara korban yang tewas ada seorang istri dengan bayinya yang khusus berangkat ke Jakarta demi menunjukkan bayi tercinta mereka pada sang suami yang pulang berlayar, yang belum sempat sekalipun memandang wajah buah hati tercinta. Tragis…


Setelah peristiwa ini, kemana gerangan logika "Maha Pengasih dan Penyayang" harus dibawa lari?


Semua orang yang beragama mengetahuinya, tidak ada secuil kejadianpun luput dari pengawasan "Yang Maha Kuasa", bahkan secara ekstrim Kitab Suci mencatat : bahkan sehelai rambutmu pun tak akan gugur tanpa seijin TUHAN. Semuanya jelas dan tegas, faktanya, Yang Maha Pengasih dan Penyayang mengijinkan hal itu terjadi.


Sepintas lalu terlihat kejam dan cenderung membingungkan. Ia yang menciptakan otak dan hati, lalu menempatkannya pada diri manusia, melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kedua 'benda kebanggaan manusia' tersebut. Ternyata tidak selamanya hati, apalagi otak, dapat diandalkan untuk mengenal –NYA. Sang Pencipta Semesta demikian tak terjangkau dengan keberadaan manusia.


Pertanyaan : "mengapa?", tidak selalu mendapat jawaban, apalagi yang memuaskan.


Gelap gulita. Buntu. Tanpa tanda sedikitpun.


Namun pada saat-saat seperti ini, ada baiknya kita meniru yang Ayub lakukan. Di titik itu, pada saat seluruh lampu sorot dan kamera beserta jutaan pasang mata dan puluhan juta bibir usil terarah pada sosok Ayub : miskin, hina, sebatang kara, dijauhi orang, terduduk di atas debu, nyaris telanjang, menggaruk koreng dengan beling, sambil berkata : "Aku manusia hina. Aku bahkan tidak tahu-menahu akan diriku, tentang hidup ini, apalagi tentang ENGKAU".


Ternyata benar, hidup ini kepunyaan TUHAN.


Termasuk ayah, ibu, istri, anak, saudara-saudara, sahabat, bahkan diri kita, yang sering kita klaim sebagai milik kita, ternyata adalah milik TUHAN, apalagi rumah, mobil, bisnis dan seluruh harta benda kita.


Pada saat IA mengambilnya kembali, tidak ada satu kuasapun yang sanggup menahan.


Sehingga, tidak sulit untuk memahami

Bahwa setiap detik adalah pemberian.

Setiap tarikan nafas adalah kemewahan tak ternilai.

Segala sesuatu adalah anugerah yang harus dihormati.

Karena kita datang telanjang,

kembalipun dengan telanjang.

Terpujilah DIA Yang Maha Pengasih dan Penyayang! DIA yang menutupi keputusan tanpa pengetahuan.


---
Made Teddy Artiana

1 komentar:

Dewi Aja mengatakan... 31 Agustus 2016 04.06

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Post a Comment and Don't Spam!