Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan

Kunci Sukses Penjualan



 


Bentuk organisasi penjualan yang dinamis, mudah berubah sesuai dengan kebutuhan, tuntutan pasar dan desakan persaingan menyebabkan organisasi penjualan dikenal sebagai organisasi yang tidak berbentuk.


Etos kerja di dalam budaya organisasi, yaitu kebutuhan akan perubahan dengan kemampuan dan keterampilan dalam menerima misi merupakan beberapa kata kunci di dalam mensukseskan organisasi penjualan.


Ada 10 kunci sukses dalam hal menjalankan organisasi penjualan agar dapat seiring dengan arus tuntutan situasi, yaitu:


1. Keputusan harus selalu diambil berdasarkan "Values" (nilai). Value disini sangat penting dikarenakan sebagai alat pengikat dan kendali setiap aktivitas. Apalagi values tersebut merupakan kesepakatan aktivitas dari nilai-nilai organisasi yang telah disepakati bersama.


2. "Misi" yang dimiliki berdasarkan pandangan bersama.Misi yang dibangun dan disepakati bersama akan menjadi dasar yang kuat, sehingga akan menciptakan setiap jiwa untuk mempunyai rasa memiliki dan terlibat dari awal sebagai kunci keberhasilan kelompok kerja dan perusahaan secara utuh.


3. Pemberian semangat untuk menciptakan kegigihan. Ibarat sebuah suporter pada suatu pertandingan, rasa kebersamaan dan dukungan moral adalah salah satu alat motivator yang cukup efektif di dunia penjualan.


4. Pemberian reward bagi seorang yang berprestasi dan berani mengambil resiko. Bagi setiap jajaran oraganisasi penjualan, reward merupakan salah satu kata yang cocok untuk memacu motivasi.


5. Karena karyawan adalah "Asset" berharga bagi perusahaan, maka perlu ditingkatkan secara terus menerus produktivitasnya. Tuntutan jaman mengharuskan setiap insan di dalam organisasi diperlakukan sebagai assets yang harus dipelihara, berkembang dan menguntungkan. Karena bermodalkan hal ini , maka tingkat turn-over manpower akan mengecil, dan loyalitas karyawan semakin terjaga.

6. Pembudayaan Continuous Learning (Pembelajar sejati). Budaya belajar perlu diciptakan secara terstruktur dan berkesinambungan, karena belajar merupakan proses yang tanpa akhir, dan tak mengenal usia.


7. Pembiasaan mencari solusi inovasi. Menurut buku Nur Kuncoro, kiat ketujuh ini lebih dikenal dengan kiat out of the box. Inovasi merupakan sesuatu yang biasanya keluar dari jalurnya, nyeleneh, aneh, tidak umum, namun harus di ikat dengan kata aplikatif, bukan sekedar hanya gagasan yang inovatif dan kreatif saja.


8. Supervisi antisipatif. Karena para jajaran penjualan lebih banyak habis waktunya berada jauh di luar kantor, maka diperlukan suatu system supervisi antisipasif yaitu dengan mengurangi kemungkinan adanya waktu luang untuk mencuri waktu dengan cara memberikan jadwal yang padat, terukur, yang biasanya disebut sebagai pola kerja baku, sehingga seluruh kegiatan mulai dari jam hadir di kantor, di lapangan, di perjalanan dan waktu administrasi semuanya dihitung secara seksama. Dengan memanfaat teknologi connecting dan online antara pelanggan dengan kantor saat ini hal tersebut sudah sangat mungkin dilaksanakan.


9. Mindsets selalu "pro" pada pasar para manajemen. Karena kebutuhan konsumen, maka perusahaan menjual produk dan jasanya, dengan prinsip itulah seharusnya orientasi dan budaya organisasi penjualan harus pro kepada pasar.


10. Berpikir besar dan menguasai hal-hal detail. Jika bicara Go retail , maka kita juga harus Go detail. Memang hal ini sangat langka dan mungkin hampir selalu terabaikan, karena berbicara detail adalah pekerjaan yang membosankan bahkan membuang-buang waktu.

Dengan memanfaatkan pemikiran Think Global act Local, rencana strategis ini dapat terintegrasi, dan diaplikasikan dengan baik oleh setiap pelaku organisasi yang ada dibawahnya. Sehingga, stigma lama yang mengatakan; "Aahh itu sih cuma teori," – lambat laun akan menghilang, dan strategi yang komprehensif akan menjadi jawaban untuk memenangkan persaingan.




-marketing.co.id-

Belajar Istilah Marketing Dengan Mudah Lewat Humor

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Di dunia maketing, ada banyak istilah-istilah yang bagi sebagian orang sulit memahaminya. Melalui postingan ini, akan dijelaskan istilah marketing lewat sebuah analogi. Tujuannya adalah agar lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh banyak orang, Yuk kita lihat..

1.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!" Itu namanya Direct Marketing.

2.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah kamu, temanmu itu berkata, "Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!" Itu namanya Advertising.

3.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya kamu telepon dia dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!" Itu namanya Telemarketing

4.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, kamu bilang, "By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!" Itu namanya Public Relations.

5.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri kamu dan berkata, "Kamu orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!' Itu namanya Brand Recognition.

6.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!", tapi dia malah menampar kamu. Itu namanya Customer Feedback.

7.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!", terus dia memperkenalkan kamu ke suaminya. Itu namanya Demand and Supply Gap.

8.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan langsung berkata, "Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!' Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut. Itu namanya Losing Market Share.

9.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang, "Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!'.... tiba-tiba istri kamu nongol! Itu namanya Barrier to New Market Entry.
Kamu masuk ke pesta, tiba-tiba sekumpulan gadis saling bisik-bisik "eh lo tau gak jeng, dia org kaya tuh pasti cocok jadi suami" yg lain pada iya-in.. Itu namanya Positive BUZZ Marketing

10.Kamu masuk ke pesta, tiba-tiba sekumpulan gadis saling bisik-bisik"eh lo tau gak jeng, dia org kaya tuh cuma impoten" yg lain pada berubah jadi jijik sambil minggir2.. Itu namanya Negative BUZZ Marketing

11.Kamu masuk ke Pesta, liat cewe cantik, tanpa ba-bi-bu langsung bawain sebotol XO Hennessy dan sebuah gelas kristal Itu namanya Experential marketing

Sumber : Felix Benny, 2010

Salam sukses
Semoga bermanfaat..!

MT. Jintang

(Artikel) Jangan Salahkan Waktumu!

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


By:  dzikrirobbi

Anda mungkin pernah berkata seperti ini :

"Ah, seandainya saya bisa mengulang waktu mungkin banyak hal yang bisa saya lakukan"

Atau seperti ini :

"Seandainya saya tahu peluang itu dari dulu mungkin sekarang saya sudah menjadi seorang yang sukses dan kaya raya"

Hal tersebut sama dengan apa yang diperbincangkan seorang teman saya beberapa waktu yang lalu, ketika dia merasa menyesal tidak melakukan sesuatu yang harusnya dilakukannya dari sejak dulu. Tetapi, pertanyaannya : Apakah kita bisa kembali ke waktu yang lalu?

Nah, pada kesempatan kali ini mari kita berdiskusi tentang hal ini.

Apakah Anda pernah menonton trilogi (atau salah satunya) film Back to the Future?

Film yang pertama kali ditayangkan pada tahun 1985 ini menceritakan dua tokoh utamanya yang berkelana mengarungi dimensi waktu dengan menggunakan sebuah mesin waktu yang berupa mobil merek De Lorean. Mereka sebenarnya hidup di tahun 1985, tetapi karena ada berbagai masalah, mereka pergi ke berbagai era : tahun 1955, 2015 dan 1885, sampai mereka kembali lagi ke tahun 1985.

Film ini memang fiktif, tetapi terlepas dari itu, kembali ke masa lalu dan berpetualang ke masa depan sudah menjadi impian orang dari sejak dulu. Pada film kartun jepang, Doraemon, pun mesin yang paling digemari oleh anak-anak adalah mesin waktu.

Kenapa?

Karena setiap orang merasa selama ini banyak melakukan kesalahan di masa lalu dan penasaran dengan kejadian yang akan terjadi di masa depan.

Kita semua tahu bahwa kita hidup dalam tiga masa. Yaitu masa lalu, saat ini dan masa depan. Namun, sebagian dari kita hidup di hari ini dengan kekecewaan pada masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Padahal seharusnya yang kita lakukan sekarang adalah bijak dalam menyikapi apapun yang terjadi hari ini. Masa lalu kita mungkin buruk tetapi masa depannya masih suci. Tergantung dari apa yang kita siapkan hari ini.

Oleh karena itu, agar bisnis dan kehidupan Anda lebih berkualias, bisakanlah untuk membuat Target 90 Hari. Yaitu berisi komitmen Anda mengenai target-target jangka pendek yang akan Anda capai dalam kurun waktu 90 hari ke depan. Karena menurut para ahli, apabila sesuatu dilakukan selama 90 hari berturut-turut maka hal itu akan menjadi kebiasaan di hari-hari berikutnya. Jadi, kalau Anda telah mencapai sukses yang konsisten selama 90 hari pertama, maka Anda akan lebih mudah mencapai sukses di 90 hari berikutnya. Dan demikian selanjutnya, apabila indikator Target 90 Hari Anda telah tercapai, tingkatkan standarnya lebih tinggi lagi dan rancang target-target di 90 hari selanjutnya yang lebih menantang!

Lalu, bagaimana dengan peluang yang sudah terlewati?

Tidak perlu merisaukan peluang yang dulu-dulu. Peluang itu selalu ada, seperti udara yang kita hirup setiap saat. Mereka banyak tapi kadang tidak terlihat hanya bisa dirasakan manfaatnya jika kita menggunakannya. Lihat peluang saat ini dengan baik dan maksimalkan sekarang!

Sudahlah, sekali lagi saya sampaikan sesuatu yang sering dikatakan oleh para orang bijak :

Kalau kita mengisi hati ini dg penyesalan hari kemarin & kekhawatiran akan hari esok,maka kita tidak akan mempunyai hari ini untuk disyukuri.

Sumber: www.marketing.co.id

Kiat Membangun Brand Yang Kuat Ala Hermawan Kartajaya

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Hermawan Kartajaya kembali membagi ide segar seputar dunia marketing. Inspirasi dari suhu marketing modern Philip Kotler itu dibagikan kepada peserta seminar MarkPlus di Surabaya

"Adakah perusahaan, yang ketika dia tutup dan produknya sudah tidak keluar, konsumen akan sedih?" pancing Hermawan Kartajaya memancing antusiasme peserta seminar.

Susah kan menyebutkan produk tersebut? Jika Anda menemukan jawaban atas pancingan Hermawan tadi, pastilah produk tersebut memiliki brand (merek) yang sangat kuat. Menciptakannya, tentu saja tidak cukup hanya dengan beriklan. Baik itu di media cetak (printing ad), iklan luar ruang (outdoor), maupun iklan-iklan model baru.

Hermawan yang juga founder dan President MarkPlus itu mengatakan untuk membangun brand yang kuat perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan iklan. Perusahaan harus melakukan sesuatu yang mengena di benak konsumen, tidak sekadar menjual tetapi memiliki implikasi jangka panjang.

Menurut Asian Marketing Guru itu, perusahaan yang memiliki reputasi bagus tidak lagi memerlukan promosi, marketing, public relation, atau corporate social responsibility (CSR) karena hal itu telah terjadi dengan sendirinya.

"Cara baru membangun brand adalah dengan membentuk bisnis yang dicintai oleh karyawan perusahaan, masyarakat, dan investor," ungkapnya.

Menurut Hermawan hal tersebut terkait reputasi. Bagi customer, reputasi yang baik akan menentukan keputusan membeli. Bagi karyawan perusahaan, nama baik akan memicu mereka untuk loyal dan berkomitmen. Reputasi juga bisa mengundang investor untuk menanamkan modalnya. Selain itu, nama baik juga akan menarik media untuk terus mengikuti perkembangan.

"Reputasi yang baik akan mendorong analis keuangan memberikan peringkat yang tinggi," ujarnya.

Beberapa brand yang mampu meraih itu semua adalah The Body Shop dan produk Apple seperti IPod dan ITunes. The Body Shop, merek produk perawatan tubuh itu dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan sehingga bisa mengambil simpati konsumen di seluruh dunia. Selain itu, Anita Roddick, pencipta merek tersebut, dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dan bisnisnya juga sangat concern terhadap perekonomian dunia ketiga.

Sedangkan produk-produk Apple dikenal memiliki reputasi tersendiri dibanding produk elektronik sejenis. Bahkan saat ini, perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu telah menjual jutaan keping produknya dan menciptakan konsumen yang loyal.

Dalam membangun brand yang kuat, kata Hermawan, harus dimulai dengan menyinergikan pikiran, hati, dan jiwa, yang lantas diimplikasikan kepada model bisnis dengan menciptakan misi, visi, dan nilai. Misinya, perusahaan bisa memberi manfaat kepada manusia dan lingkungan. Visinya, perusahaan bisa menjadi yang terdepan dalam menciptakan inovasi untuk memenuhi

kebutuhan manusia. Dan nilainya adalah menciptakan nilai keekonomian, lingkungan yang sehat, dan mendukung perkembangan sosial.
Menurutnya, perusahaan perlu melakukan usaha-usaha untuk mempertahankan diri bagi orang-orang yang mencintai perusahaan. "Akhirnya, perusahaan akan mampu menciptakan brand-nya akan mempunyai brand integrity, brand identity, dan brand image," katanya.(alina mustaidah)


sumber : JawaPos

Mantra Pembalik Mimpi Buruk

by sekar ayu



Setiap rencana atau rancangan kebijakan yang dibuat oleh perusahaan selalu memiliki risiko. Meski telah dikalkulasikan sedemikian rupa terkadang ada saja hal-hal yang luput dari perhatian dan akhirnya menjadi pemicu timbulnya krisis.


Salah satu contohnya adalah apa yang terjadi pada Netflix beberapa waktu yang lalu. Perusahaan penyedia layanan streaming internet on-demand ini dikritik keras oleh para subscriber-nya setelah mengumumkan rencana mereka memisah layanan DVD dan streaming serta meluncurkan Qwikster, anak perusahaan yang akan mengelola layanan DVD mereka.


Di saat seperti inilah peran public relations menjadi sangat penting. Mereka harus mengambil langkah yang tepat agar bisa membalikkan kondisi krisis tersebut. Ada beberapa teknik yang bisa diambil untuk menyelamatkan perusahaan dari kondisi yang tidak menguntungkan tersebut.


Meminta maaf

Bila yang terjadi menyangkut keamanan dan kepuasan pelanggan, maka permintaan maaf wajib disampaikan. Permintaan maaf yang tulus akan menyelamatkan perusahaan dari kerugian yang diakibatkan oleh krisis tersebut.


Video permintaan maaf Domino's Pizza adalah salah satu contohnya. Dalam video tersebut Presiden Domino's Pizza, Patrick Doyle meminta maaf kepada para pelanggannya setelah video tak pantas yang direkam oleh salah satu pegawainya beredar dan merusak selera makan para konsumen. Video permintaan maaf ini berhasil meraih simpati publik dan menyelamatkan Domino's Pizza dari kerugian yang lebih besar.


Bereskan Masalah yang Terjadi

Ketika krisis terjadi, jadilah bagian dari solusi. Hal ini merupakan resep klasik untuk keluar dari sebuah kesalahan. Hal inilah yang dilakukan oleh Mattel saat terjadi komplain terhadap kualitas produk mereka. Mattel menerapkan standar baru dengan melakukan inspeksi produk dan audit terhadap para supplier mereka.

Hal yang sama juga dilakukan oleh perusahaan penerbangan, JetBlue. Mereka menerapkan Passenger Bill of Right, semacam rencana penerbangan untuk mengantisipasi terulangnya kejadian penundaan penerbangan yang parah pada Hari Valentine tahun 2008 silam.


Berbagi Pengalaman

Jangan segan-segan berbagi pengalaman buruk dan pelajaran yang didapat dari hal tersebut. Hal tersebut dapat menjadi panduan bagi perusahaan lain dan pada akhirnya memberi dampak positif bagi perusahaan.


Berbisnis Seperti Biasanya

Terkadang publik bereaksi negatif karena keadaan dan bukan karena perusahaan melakukan kesalahan. Bila hal ini yang terjadi, jalanilah bisnis seperti biasanya. Pada waktunya publik akan melihat bahwa perusahaan tidak melakukan kesalahan.


Hal inilah yang dialami oleh Royal Carribean saat terjadi gempa di Haiti. Publik ramai-ramai mengkritik keputusan kapal pesiar tersebut untuk tetap bersandar di Pelabuhan Labadee, Haiti pasca gempa. Namun pada akhirnya para ahli dan penumpang setuju bahwa bersandar di pelabuhan tersebut dan memberikan bantuan kepada para korban adalah hal yang patut dilakukan Royal Carribean.


Balik Melawan

Ketika yakin kesalahan bukan berada di sisi perusahaan, bangkit melawan menjadi hal yang bisa dilakukan untuk mempertahankan citra. Hal inilah yang dilakukan oleh Taco Bell ketika terjadi tuntutan atas dugaan penggunaan daging palsu dalam taco dan burrito mereka oleh konsumen. Mereka merilis respon perusahaan dalam bentuk video, memberikan pernyataan melalui website, hingga melakukan kampanye besar-besaran mengenai kualitas bahan-bahan makanan yang digunakan. Pada akhirnya tuntutan tersebut dibatalkan.


Reaksi publik yang buruk tidak selamanya menjadi mimpi buruk. Dengan kecerdikan dan kearifan perusahaan, kita tetap bisa membalik hal tersebut menjadi hal baik.


(Sumber: www.marketing.co.id)


:: Nchus Assaini ::

Outline Edisi April 12 Majalah Marketing ( Edisi Top Brand For kid & Teens Award )



MajalahMARKETING-Hires

Kepada Yth,

Outline Majalah Marketing Edisi April 2012

Pada kesempatan ini, sehubungan dengan Segmen Utama kami di bulan April 2012
mengenai "Merek Merek Penakluk Hati Anak dan Orang Tua" saya mencoba untuk
memberikan sedikit ulasan, semoga ini dapat menjadi penambahan wawasan dan
layak untuk di nikmati para pembaca. Salam Marketer !

Merek-merek Penakluk Hati Anak dan Orangtua

Pasar anak dan remaja adalah pasar yang sangat menggiurkan sekaligus
menantang. Menggiurkan karena begitu luas segmen yang harus digarap, mulai
dari usia 0 tahun hingga 18 tahun. Disebut menantang karena merekalah yang
akan menjadi future market. Dengan melihat kondisi pasar anak dan remaja
saat ini, sedikit banyak kita bisa meneropong lansekap pasar mereka di masa
depan.

Meski menggiurkan dan menantang, tidak mudah menaklukkan pasar anak dan
remaja. Hal ini tentu saja terkait dengan sifat segmen ini yang sangat
dinamis. Untuk pasar anak misalnya, kondisinya sudah jauh berbeda dengan 10
atau 20 tahun lalu. Pakar pemasaran Handi Irawan menyebut ada delapan faktor
pendorong pasar anak yang mesti dicermati para pemasar.

Kedelapan faktor tersebut mencakup: (1) perubahan sikap orangtua terhadap
anak yang lebih menempatkan pendidikan sebagai investasi masa depan bagi
anak; (2) peningkatan jumlah orangtua yang bekerja sehingga kebutuhan anak
secara relatif meningkat; (3) jumlah orang yang menikah di usia 30 tahun ke
atas meningkat sehingga kondisi ekonominya jauh lebih mapan; (4) paradigma
baru sistem edukasi yang mendorong orangtua melatih anak-anaknya lebih
mandiri serta percaya diri; (5) faktor kebanggaan orangtua; (6) inovasi
produsen; (7) komunikasi kreatif dalam membentuk citra merek dan; (8) aspek
teknologi atau digital native yang kini memengaruhi anak-anak dalam memilih
produk tertentu.

Merebut pasar remaja juga bukan persoalan gampang. Penyebab utamanya bukan
karena kantong mereka terbatas, tapi lebih karena mereka juga memiliki
karakter yang unik dan sulit untuk didikte. Hal ini terkait dengan
merebaknya teknologi internet dan digital. Menurut Rhenald Kasali, kemajuan
teknologi telah melahirkan generasi yang disebut dengan Gen-C. Sifat-sifat
dari Gen-C adalah selalu connected, content created, curious, cameleon, dan
cracker.

Sifat-sifat tersebut tentunya menjadi pertimbangan bagi para pemasar dalam
menggarap segmen anak dan remaja. Karena itu, Segmen Utama majalah MARKETING
edisi April 2012 akan mengulas sepak terjang para pemasar dalam menggarap
segmen ini. Sebagaimana terlihat dalam daftar merek yang meraih TOP BRAND
untuk pasar anak dan remaja. TOP BRAND adalah penghargaan yang diberikan
berdasarkan hasil riset yang dilakukan Frontier Consulting Group bekerja
sama dengan majalah MARKETING. Dalam edisi ini akan ditampilkan pula
hasil-hasil riset Top Brand For Kids and Teens.

Keberhasilan mereka menarik untuk dicermati karena menyiratkan dua hal,
yakni keberhasilan menaklukkan hati anak-anak, sekaligus hati orangtua
mereka. Hal ini karena anak dan remaja adalah influencer ampuh yang dapat
memengaruhi para orangtua dalam keputusan pembelian suatu merek.

Profile Event Majalah Marketing:

8 Maret 2012 : Call Center Award di Balai Sarbini

18-19 April 2012 : Top Brand For Kid & Teen Award di Hotel Mulia

Demikian outline edisi April 2012 & profile event Majalah Marketing ini saya
sampaikan.Apabila Bapak/Ibu ingin bekerjasama dengan kami baik untuk
Pemasangan Iklan (display/advertorial/iklan kreatif) di Majalah Marketing
untuk edisi April 2012 dapat menghubungi saya di no HP yang tertera di bawah
ini . Sekian terima kasih.

NB:

Apabila Bapak /Ibu ingin beriklan di Edisi April 2012,kami beritahukan bahwa
deadline kami tgl 24 Maret 2012

Salam:

Binsar Tobing

Asst Manager iklan

Majalah Marketing

Hp 0812.8959266, 0812.80719630

Binsar@marketing.co.id

tobingbinsar@yahoo.com

Artikel:MENENTUKAN HARGA JUAL BARANG



Sepulang dari memberikan pelatihan di satu perusahaan detergen yang besar, seorang trainer menceritakan keheranannya karena ada product manager yang tidak mengetahui cara menentukan harga jual suatu barang yang menjadi tanggungjawabnya. Hal itu terjadi meski ia telah bekerja dibidangnya beberapa tahun. Asal ingat kejadian tersebut sang trainer selalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda takdapat menerima kenyataan.


Memang menarik jika hal itu dibicarakan dalam obrolan para insan marketing. Karena menurut pengetahuan yang umum, para manager di bagian marketinglah yang selalu merencanakan harga jual. Para product manager selalu membuat perencanaan pemasaran untuk produk baru maupun yang sudah eksis. Setiap tahun membuat perencanaan ulang dan penyesuaian dengan perubahan yang terjadi di lapangan. Selalu berusaha memoles strateginya sedemikian rupa hingga didapat segmentasi masyarakat yang mau disasar dan ditentukan target yang mau diraih dengan menggunakan pembeda yang ditonjolkan agar mudah diterima konsumen sasarannya. Dengan demikian harga akan disesuaikan dengan kelas sosial para konsumen yang diharapkan membelinya. Penentuan harga yang tidak searah dengan strategi-strategi yang lain, seperti kualitas produk, outlet penyalur dan cara melakukan promosi dapat membuat produk tidak diterima oleh konsumen yang disasar. Berarti pemasarannya akan gagal.


Namun kenapa di perusahaan besar tersebut di atas, perencanaan harga jual barang tidak dimulai dari para insan pemasaran? Karena mulai dari merencanakan hingga menentukan harga jual suatu produk dibuat oleh pemiliknya sendiri. Pemilik perusahaan masih tetap bercokol dan menentukan segala masalah di perusahaannya. Dia yang mendiskusikan sendiri dengan manajer tertinggi bagian keuangan. Demikian pula yang terjadi saat akan menaikkan harga jual setiap tahunnya. Dengan demikian maka tidak satu orangpun product manager di perusahaan besar itu yang diminta atau diajak merencanakan harga jual suatu barang. Hal ini merupakan 'kewajaran' di perusahaan tertentu jika manager di bagian pemasaran yang telah berpengalaman sekian tahun namun tak pernah merasakan ikut merencanakan harga jual. Aneh tapi nyata.



Persembahan
Fikri C. Wardana
Penulis buku sales & marketing dan trainer di
fms training & seminars


Phone & fax : 021 – 4522044
Mobile phone: 0811838029
E-mail: fcw_marketing_selling@yahoo.com