Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label harga barang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga barang. Tampilkan semua postingan

KISAH 3 KALENG COCA-COLA

http://emailbisnismarketing.blogspot.com
 


Ada 3 kaleng coca-cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca-cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca-cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca-cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca-cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas Kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca-cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :

Mengapa ketiga kaleng coca-cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama.

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan hal terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.!!....Lingkungan anda, adalah ANDA.


(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA..!!



----
Pramono Dewo

Les Miserables : Harga Seorang Manusia



"Mati bukanlah soal; yang mengerikan adalah tidak hidup"

(Jean Valjean)


Laki-laki yang dipenjara karena persoalan sepele itu memang bernasib malang. Hukum mengganjarnya dengan tidak adil. 19 tahun dipenjara untuk sebuah roti dan beberapa kali usaha melarikan diri. Ia sendiri tentu tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa pencurian yang dilakukan hanya karena ingin menyelamatkan keluarganya yang kelaparan itu, membuat dirinya terlibat akan konflik moral berkepanjangan. Jean Valjean, lelaki itu keluar dari penjara dengan api dendam yang berkobar. Diperlakukan semena-mena, hukum yang kaku, aturan yang dingin, hanya secuil dari segudang ketidakpuasaan akan hidup yang dirasainya.

Bertemulah ia dengan seseorang, Uskup Myriel, nama orang itu. Mantan narapidana, yang tidak diterima oleh masyarakat itu, akhirnya diterima bernaung di rumah Sang Uskup. Tidak hanya sekedar diterima, ia diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Manusia, bukan mantan narapidana.

Tetapi seolah air susu yang dibalas dengan air tuba, Valjean mencuri bahkan memukul Sang Uskup hingga pingsan. Perhiasan lilin perak itu pun diambilnya dari tangan 'pahlawan yang menolongnya'. Tetapi ternyata hidup, tidak seperti hukum-hukum dunia. Hidup adalah hakim yang adil. Valjean tertangkap. Gilanya, Uskup Myriel malah membela pencuri itu. Orang tua yang bijak itu malah berdalih, bahwa ialah yang memberikan itu pada Valjean, bahkan meminta maaf, karena merasa pemberiannya itu tidak cukup. Si Penjahat justru diselamatkan oleh orang yang ia aniaya. Kejadian ini menggoncangkan Valjean. Gurun yang membara itu kini telah diguyur hujan lebat.

Inilah awal cara pandang baru yang dimiliki Valjean. Benih perubahan itu pun mulai tumbuh. Walau tidak mudah, dan kadang terjatuh, ia tetap bertarung. Seolah petinju yang babak belur dihajar lawan, namun Valjean memutuskan tidak beringsut dari ring tanding. Seakan mendapatkan sebuah jubah baru, ia berusaha keras keluar dari masa lalu yang suram. Bukan persoalan sepele. Bayangan raksasa itu laksana kulit yang selalu menempel pada tubuhnya. Tidak mungkin lari. Sepanjang hidup ia terlibat pergumulan untuk "hidup benar tapi menderita, ataukah hidup sebaliknya". Akhirnya Jean Valjean pun dapat mengakhiri pertarungan itu dengan baik.

Bagi sebagian orang penggemar novel dan film drama, cerita di atas pastilah tidak asing lagi. Les Miserables karya Victor Hugo memang fenomenal. Tidak terhitung bahasa yang menterjemahkan novel ini. Belum lagi film adaptasinya yang berjumlah puluhan. Dan kini, jangankan dikalangan kutu buku, demikian banyak seminar dan motivator terinspirasi akan novel tahun 1862-an itu, dan mengangkatnya kehadapan para audiens.

Bagi Anda yang belum pernah membaca novel karya Victor Hugo ini, saya sarankan untuk segera membacanya. Atau jika membaca merupakan kegiatan yang tidak terlalu Anda sukai, ada baiknya Anda mencari versi film nya. Dari semua orang yang pernah menonton ataupun membaca Les Miserables, hampir semua sepakat, bahwa intisari dari novel itu adalah betapa berharganya nilai manusia.

Bicara soal harga manusia, Prof. Norweigh, seorang pakar kimia dan komputer, dalam sebuah jurnal kedokteran 'iseng' menghitung harga seorang manusia. Mengejutkan, jika diuangkan, total harga oragan tubuh, enzim, kelenjar dll dari manusia itu total berharga kurang lebih USD 85 milyar. Bahkan untuk sebuah zat penumbuh rambut saja, dengan perkiraan dibutuhkan orang sampai 50 th sebanyak 20 gram, satu gramnya berharga USD 2 juta !

Jadi jangan pernah pandang remeh rambut Anda, entah ia keriting, lurus, tipis, berombak atau apapun, karena harganya mahal.

*Ngomong-ngomong*, ada sesuatu yang menarik dari penyelidikan sang profesor, yaitu satu-satunya komponen yang tidak dapat dimasukkan dalam perhitungan itu adalah nyawa manusia. Jadi harga semahal itu hanya untuk tubuh, jeroan-jeroan dan berbagai bahan kimia didalam tubuh kita.

Memang sampai sekarang, belum pernah ada ilmuwan yang 'berani' menghitung harga sebuah nyawa manusia, mungkin karena memang hanya itu satu-satunya item yang tidak bisa dihargai alias tak terkalkulasi lagi.

Berarti jika ditotal-total, kita ini, atau lebih tepatnya hidup Anda dan saya itu jauh..jauh..jauh lebih berharga dari USD 85 milyar. Percaya atau tidak, itu benar adanya !

Tetapi harga yang demikian seolah jadi tidak berharga jika kita melihat banyak orang memilih untuk melacurkan atau menjual diri, atau terikat akan berbagai kebiasaan yang merendahkan harkat dan martabatnya, atau bahkan menukar dirinya dengan uang, jabatan, posisi yang dia pandang sangat berharga. Ironis memang, tetapi itulah manusia.

Pernah seorang bijak berkata pada saya demikian, "Tuhan itu tahu persis betapa berharganya diri kita, setan pun tahu betapa mulianya kita, satu-satunya yang bodoh itu ya kita sendiri. Manusia sering tidak tahu betapa berharganya dirinya".

Nah, kembali lagi ke Les Miserables nya Victor Hugo, Uskup Myriel rupanya termasuk segelintir manusia yang tahu betapa berharganya manusia, betapapun hitam jejak langkah yang ditinggalkannya di masa lalu. Dan rupanya sudut pandang yang demikian, punya kuasa untuk mengubah (sebenarnya saya lebih suka memakai kata 'mengingatkan') pribadi seorang Valjean. Inilah yang membuat Valjean memutuskan untuk 'hidup' dan bukan sekedar 'tidak mati'. Untuk bertarung sekuat tenaga dan menang, bukan meninggalkan gelanggang pertandingan dengan kibaran bendera putih setengah tiang.

Bagaimana dengan Anda dan saya ? Apakah kita sudah berada dalam keadaan 'hidup sebenar-benarnya' ataukah kita sebenarnya sudah tidak hidup, bahkan jauh hari sebelum kita divonis mati ?

Sepertinya jawaban atas pertanyaan itu, sedikit banyak akan melibatkan sebuah pertanyaan lagi, tentang seberapa paham kita akan harga kita sebagai manusia. Ini sangat penting, karena nantinya akan menuntun kita kedalam pengertian tentang betapa Anda dan saya sangat berharga dimata-Nya. Seandainya saja kita mengetahuinya..ya seandainya saja kita mengetahuinya (*)


--
What a wonderfull world ! What an exciting journey !!

Made Teddy Artiana, S. Kom

fotografer, penulis & event organizer
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com

Artikel:MENENTUKAN HARGA JUAL BARANG



Sepulang dari memberikan pelatihan di satu perusahaan detergen yang besar, seorang trainer menceritakan keheranannya karena ada product manager yang tidak mengetahui cara menentukan harga jual suatu barang yang menjadi tanggungjawabnya. Hal itu terjadi meski ia telah bekerja dibidangnya beberapa tahun. Asal ingat kejadian tersebut sang trainer selalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda takdapat menerima kenyataan.


Memang menarik jika hal itu dibicarakan dalam obrolan para insan marketing. Karena menurut pengetahuan yang umum, para manager di bagian marketinglah yang selalu merencanakan harga jual. Para product manager selalu membuat perencanaan pemasaran untuk produk baru maupun yang sudah eksis. Setiap tahun membuat perencanaan ulang dan penyesuaian dengan perubahan yang terjadi di lapangan. Selalu berusaha memoles strateginya sedemikian rupa hingga didapat segmentasi masyarakat yang mau disasar dan ditentukan target yang mau diraih dengan menggunakan pembeda yang ditonjolkan agar mudah diterima konsumen sasarannya. Dengan demikian harga akan disesuaikan dengan kelas sosial para konsumen yang diharapkan membelinya. Penentuan harga yang tidak searah dengan strategi-strategi yang lain, seperti kualitas produk, outlet penyalur dan cara melakukan promosi dapat membuat produk tidak diterima oleh konsumen yang disasar. Berarti pemasarannya akan gagal.


Namun kenapa di perusahaan besar tersebut di atas, perencanaan harga jual barang tidak dimulai dari para insan pemasaran? Karena mulai dari merencanakan hingga menentukan harga jual suatu produk dibuat oleh pemiliknya sendiri. Pemilik perusahaan masih tetap bercokol dan menentukan segala masalah di perusahaannya. Dia yang mendiskusikan sendiri dengan manajer tertinggi bagian keuangan. Demikian pula yang terjadi saat akan menaikkan harga jual setiap tahunnya. Dengan demikian maka tidak satu orangpun product manager di perusahaan besar itu yang diminta atau diajak merencanakan harga jual suatu barang. Hal ini merupakan 'kewajaran' di perusahaan tertentu jika manager di bagian pemasaran yang telah berpengalaman sekian tahun namun tak pernah merasakan ikut merencanakan harga jual. Aneh tapi nyata.



Persembahan
Fikri C. Wardana
Penulis buku sales & marketing dan trainer di
fms training & seminars


Phone & fax : 021 – 4522044
Mobile phone: 0811838029
E-mail: fcw_marketing_selling@yahoo.com