Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label penjual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penjual. Tampilkan semua postingan

BERBEDA..seperti Bu Gito Si Penjual Sayur yang Aneh itu !!

by Made Teddy Artiana


    
(sementara lagu 'Forever Now', Level 42 yang dahsyat itu mengalun menemaniku)

Artikel kali ini adalah tentang Bu Gito (bukan nama sebenarnya)..dia penjual sayur dikomplekku. Tapi tunggu..jika yang ada dipikiran kalian adalah mbok-mbok penjual sayur..sepertinya kalian salah besar. Bu Gito, jauh dari streotype seorang mbok-mbok penjual sayur. Dia jelas-jelas berbeda. Berdagang sayuran, buah, cabe, areng, jengkol, minyak tanah dan sebagainya dilantai bawah rumahnya yang bertingkat tiga itu. Perhatikan gelang dan cincin yang melingkar berkilat-kilat ditangan keriputnya
itu...fuiiiih..melihatnya saja sudah terasa meelahkan buat jari jemariku. Bu Gito adalah superstar. Buah bibir seluruh ibu-ibu komplek. Jika artis baru akan digosipin jika mereka berfoto telanjang di internet, tidak demikian dengan Bu Gito. Hampir setiap hari ibu-ibu komplek menggossipkan dirinya. Tanpa henti. Setiap hari selalu saja ada yang ngedumel dan memujinya.

Bicara tentangnya selalu melibatkan dua hal : benci tapi rindu. Ini berkaitan erat dengan tingkah lakunya yang memang aneh dan sangat berbeda dari pedagang sayur biasa. Jika lumrahnya pedagang sayur bangun subuh..lalu membuka lapaknya pagi hari..tidak demikian dengan pedagang yang satu ini. Hampir setiap hari Ia bangun siang..namun juga hampir selalu berwajah mengantuk...dan selalu ketiduran di antara dagangannya ketika siang menjelang sore. Kadang terlentang..kadang tengkurap beralaskan koran-koran,
gaya tidurnya.. persis Tono, hansip komplek kami, yang bertugas jaga malam...satu tangan menutupi wajah..tangan lain berada diatas perut.

Satu hal yang 'mati--matian' dikutiki ibu-ibu komplek : keleletannya dalam melayani customer. Jika penjual sayur lain tampak gesit bak kijang di savana Afrika..yang meloncat kekiri dan kekanan..berkelebat kesana kemari..maka gerakan Si Ibu dapat disamakan dengan... Kuda Nil. Laaaambaaaaaat buaaangeeeeetttt..dan cenderung diam...zzzzz...tertidur !!

Akan tetapi....
yang membuat ia begitu dirindukan adalah kelengkapan dagangannya..sejauh yg
kuketahui..belum pernah seorangpun tetangga, pembantu rumah tangga, atau
istriku mengeluh bahwa sesuatu yang mereka cari, tidak ada ditempat Bu Gito.
Asal itu berhubungan dengan sayuran, terasi, keluwek, jengkol, bumbu dapur
dan sebangsanya...pasti mereka berkumpul di sana..dilapak mewah Bu Gito.

Kalian boleh percaya atau tidak...ujung-ujungnya tempat Bu Gito adalah
markas berkumpulnya ibu-ibu komplek..yang karena kelamaan menunggu..akhirnya
ngobrol dengan sesama..berbicara apa saja..apa saja..sekedar mengisi jeda
panjang yang ditimbulkan Sang Kuda Nil betina ini. Alhasil..lapaknya selalu
terlihat rame..sepanjang siang dan sore.

Entah disengaja atau tidak..kelakuan Bu Gito mengingatkanku akan salah satu
jurus pamungkas branding yg begitu sering didengung-dengungkan Al Ries dan
putrinya Laura Ries dalam berbagai buku mereka...salah satunya War in The
Boardroom.

--Sebagai seorang Creative Junkies yang sering bersentuhan dengan berbagai
client dari berbagai perusahaan..tentunya aku harus memahami hal-hal dalam
dunia marketing (ehm!) --

"Jika Anda mencoba memenangkan persaingan hanya dengan memperbaiki mutu
produk Anda..bersiap-siaplah kecewa..karena seringkali..yang dibutuhkan
dalam bisnis adalah..menjadi berbeda. Karena harga seringkali adalah sebuah
persepsi, yang tidak berbanding lurus dengan kualitas"

"Business is about attractions !", kata Roger Hamilton, penulis buku Wink
and Grow Rich, kepada kami peserta seminarnya disuatu kesempatan.

Brian Tracy menuliskannya dengan sedikit berbeda dalam buku best sellernya
The Psychology of Selling, "words of mouth adalah senjata yang paling
ampuh..dan iklan terbaik..entah itu buruk atau baik, publisitas selalu
dibutuhkan. Semua orang mencari sesuatu untuk dibicarakan"

Begitu pula menurut Marc Gobe, dalam bukunya Emotional Branding, yang
mengatakan bahwa "pendekatan yang melibatkan berbagai faktor emosional
sangat penting untuk membuat sebuah produk tak terlupakan oleh customer
mereka" (yang terakhir ini..bahkan lebih jauh dari perkiraan Gobe..Bu Gito
cendrung membuat customernya benar-benar emosi !!..hehehe..)

Nah..lain halnya dengan contoh konyol Bu Gito, sebuah bengkel langganan
kami...punya sesuatu yang berbeda..(ingat cerita kemaren :)) yang membuat
aku betah berkunjung kesana.

sesuatu itu adalah ruang tunggu mereka..sangat unik..yang sama sekali tidak
ada hubungannya dengan teknologi perbengkelan..

Sebuah ruangan luas ber-AC dan bebas asap rokok dengan 4 kumpulan sofa yang
mengelompok dibeberapa tempat demi menjamin privacy. Membentuk suasana
rumah, ruang keluarga lengkap dengan TV, majalah, cemilan bahkan play station ! Belum lagi 10 buah PC yang nangkring dengan fasilitas internet..free of charge..!! Itu belum seberapa. Ada empat buah kursi pijat modern yang merupakan produk dari sponsor yang dapat digunakan semau-maunya oleh kami, para customer yang sedang menunggu ini..lengkap dengan dua orang wanita cantik yang akan membantu kita mengoperasikan kursi tersebut ;)

Perbedaan yang jelas-jelas menyentuh kami secara emosional.

Nah..lengkap sudah pelajaran hari ini..setidaknya buat aku pribadi.. :)
dari mulai Bu Gito..hingga bengkel favorite ku.

Setiap manusia unik..cuma ada satu dan satu-satunya..yang perlu kita lakukan
hanya menggali keunikan kita masing2..that's all (*)


--
*What a wonderfull world ! What an exciting journey !!

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng



Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.


Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya -gak mau ambil resiko dong-, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak (berdiri lho!), belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Begitu pula dengan persediaan telurnya.


Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa dagangan si Bapak ini laris manis.
1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.
2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.
3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.


Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju.



CMIIW
Salam,Erick Sowong


http://belajarngobrol.blogspot.com

Artikel: I'm an ACTOR, not reactor.

Dua org ibu memasuki toko pakaian & membeli baju seragam anaknya.

Ternyata pemilik tokonya lagi bad mood shg tidak melayani dengan baik, malah terkesan buruk, tdk sopan dgn muka cemberut.

Ibu pertama jelas jengkel menerima layanan yg buruk seperti itu. Yg mengherankan, ibu kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kpd penjualnya.

Ibu pertama bertanya, "Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pd penjual menyebalkan itu?"

Lantas dijawab, "Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dlm bertindak ? Kitalah sang penentu atas hidup kita, bukan org lain."

"Tapi ia melayani dengan buruk sekali," bantah Ibu pertama.

"Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dg buruk dll, toh tidak ada kaitannya dg kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur & menentukan hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita," jelas Ibu kedua.

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan org lain kpd kita. Kalau org melakukan hal buruk, kita akan membalasnya dg hal yg lebih buruk lagi. Dan sebaliknya.

Kalau org tdk sopan, kita akan lebih tdk sopan lagi. Kalau org lain pelit terhadap kita, kita yg semula pemurah tiba2 jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dg org tersebut. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan org lain.

Kalau direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita. Mengapa utk berbuat baik saja, harus menunggu diperlakukan dg baik oleh org lain dulu?

Jagalah suasana hati sendiri, jangan biarkan sikap buruk org lain menentukan cara kita bertindak! Kitalah sang penentu yang sesungguhnya!

I'm an ACTOR, not reactor.

Dari Artikel di atas, coba kita balik : Penjual ibaratnya adalah Konsumen kita dan Pembeli adalah Salesman.
Seringkali kita menemukan konsumen yg bad mood, apakah posisi yang kita ambil ?
Tentunya melihat artikel di atas, maka sudah selayaknya Kita menjadi Sang Penentu yang Sesungguhnya (I'm an ACTOR, not Reactor)

Salam,
Surya__,_._,___