Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label emosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label emosi. Tampilkan semua postingan

Mencoba Mengerti



Di sebuah kedai kopi, saat itu harga es krim sundae sedang murah-murahnya, ada seorang anak kecil berumur 10 tahun masuk dan duduk di sebuah meja. Lalu datanglah seorang pelayan menghidangkan segelas air putih di mejanya.

"Berapa harga seporsi es krim sundae?" Tanya si anak. 


"50 sen" jawab pelayan.


Anak kecil itu lalu menarik tangannya keluar dari sakunya kemudian menghitung jumlah uang koin yang dia miliki.


"Kalau seporsi es krim biasa berapa?" Tanya si anak kembali.


Karena keadaan kedai yang agak ramai, si pelayan merasa kesal dengan anak kecil itu, menggugam dalam hati 'kayak duitnya cukup aja nih anak' dan menjawab dengan kasarnya


"35 sen"



Kemudian anak kecil itu menghitung kembali uang koin yang dimiliki dan berkata "Saya pesan es krim biasa aja deh".



Pelayan pun kembali membawa seporsi es krim biasa, menaruh tagihan di atas meja dan lalu berjalan pergi.



Setelah selesai menghabiskan seporsi es krim, anak kecil itu melangkah ke kasir untuk membayar tagihannya dan kemudian meninggalkan kedai kopi tersebut.



Ketika pelayan datang kembali ke meja anak itu, ia mulai mengelap meja dan kemudian menelan ludahnya dalam-dalam dengan apa yang telah dilihatnya.



Di sana, di dekat samping piring kosong es krim bekas si anak, tergeletak rapih uang koin 15 sen.



Ternyata si anak meninggalkan uang tip untuk si pelayan. Uang 50 sen yang semula ingin dibelikan seporsi es krim sundae, hanya dibelanjakan 35 sen untuk seporsi es krim biasa demi untuk memberikan tip 15 sen kepada si pelayan.





Jadi, jangan pernah menilai sesuatu dari luarnya, di saat kita tidak begitu menghargai orang lain, ternyata orang tersebut lebih menghargai diri kita, belum tentu orang-orang yang lain pun akan berlaku sama seperti orang yang telah menghargai kita.





-Academictips-
Enhanced by Zemanta

"MAAF" Energi Terdahsyat

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Minggu siang, 8 April 2001 di Augusta National Golf Club Georgia, Amerika Serikat, Tiger Woods, Pegolf yang saat itu berusia 25 tahun, menyelesaikan hole ke-18 dengan mengayunkan putter-nya dari jarak 5 meter dan masuk sempurna! Dan para penonton berteriak histeris, "Tiger! Tiger!" melalui kemenangannya ini Tiger Woods mencapai prestasi yang luar biasa. Dalam jangka waktu setahun ia telah meraih juara dari empat pertandingan yang amat bergengsi didunia golf internasional.


Ayahnya berkata,"Ketekunan berlatih, tekad kuat untuk meraih kemenangan, tabah mengatasi kekalahan merupakan ciri-ciri Tiger Woods." Walaupun mengalami diskriminasi dibeberapa klub golf, namun Ayahnya berpesan secara arif "Jangan sampai kau sakit hati dan memupuk dendam. Kau harus mengasihani orang-orang yang masih rasialis."


Disepanjang perjalanan karier dan bisnis, tidak dapat dipungkiri bahwa kita harus berhadapan dengan berbagai jenis kepribadian manusia. Roberta Cava, dalam bukunya Dealing with Difficult People, menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang berpotensi menyulitkan kita, yaitu:

1.Mereka yang sering membuat kita emosional.
2.Mereka yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak kita ingin lakukan.
3.Mereka yang mencegah atau menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan.
4.Mereka yang suka menimbulkan perasaan bersalah jika kita tidak melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
5.Mereka yang suka menimbulkan perasaan-perasaan negative terhadap kita seperti frustasi, marah, minder, iri, depresi, dan sebagainya.
6.Mereka yang selalu menggunakan kekerasan dan memanipulasi untuk mencapai tujuannnya.


Kita tidak mungkin dapat mengendalikan sikap orang-orang tersebut. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mencegah mereka agar tidak berbuat negative. Namun, kita bisa mengelola hati kita. Daripada sibuk menyimpan kekesalan, dendam, dan amarah yang jelas-jelas tidak berguna, bukankah lebih baik jika kita berpikir tentang cara agar kita dapat menaklukan musuh tanpa harus bertempur? Ingatlah bahwa tak ada yang lebih hebat yang dapat menghambat kebahagiaan kita daripada rasa benci, marah, dan kesal.


Tidaklah penting apa yang dilakukan seseorang terhadap kita atau besarnya kesalahan mereka. Jika kita tidak memaafkannya, kitalah yang akan menanggung akibatnya. Memaafkan dan mengampuni orang lain membebaskan kita dari kelumpuhan hidup.


Menyimpan rasa dendam dan amarah memboroskan tenaga dan energi yang dapat kita arahkan menuju kebahagiaan. Jika kita rela memaafkan, kita dapat menyumbang lebih banyak pada kehidupan dan merasa bahagia terhadap diri sendiri dan orang lain.


Pengampunan itu menyembuhkan. Pengampunan itu membuka hati kita, membebaskan emosi-emosi kita, melepaskan energi yang tersumbat didalam tubuh, dan membiarkan dya hidup mengalir bebas.


Mengampuni dan melupakan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tindakan ini diperlukan kerendahan dan kebesaran hati. Namun, itulah satu-satunya cara untuk menempuh jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan sejati.


Sahabat, Hidup ini akan semakin terasa sangat singkat kalau hanya untuk Membenci, tidak satupun diantara kita yang paling sempurna dan paling suci, mari kita maafkan ayah ibu kita, anak-anak kita, suami kita, istri kita, saudara-saudara kita, bos kita, karyawan kita, pembantu kita, teman dan sahabat kita. ada banyak cara memberi dan meminta maaf, jika kita masih malu dan ragu bertemu, via SMS dan FB bisa menjadi pendahuluannya.


Rasullulah Saw memberikan bimbingan, "Carilah alasan untuk memaafkan saudaramu walau hingga 70 alasan." Seorang murid bertanya kepada gurunya, Imam Hasan Al-Basri, "Mengapa Rasullah menyuruh kita mencari 70 alasan untuk memaafkan?". Jawab Hasan Basri, "Itu menunjukkan pentingnya memaafkan. Sebelum kita sampai pada 70 alasan kita belum bisa memaafkan, kita harus bersedih karena memiliki hati sekeras batu."


----
Pramono Dewo

Anda Emosi? Itu Artinya Masih Normal!

http://emailbisnismarketing.blogspot.com

 

Waktu itu saya baru saja pulang beribadah. Semua mobil sedang berhenti karena lampu merah sedang menyala. Mobil saya baru saja keluar dari sebuah gang kecil. Namun ada mobil yang merasa tersinggung karena 'kepala' mobil saya menghalangi jalurnya. Bukannya antri, beliau nekad menabrakkan mobilnya ke mobil saya. Seolah-olah puas setelah menabrak, dia kembali memundurkan mobilnya.

Saya turun dan melihat kondisi mobil saya. Kali ini dia melakukan hal yang lebih keterlaluan lagi. Dia menabrak saya yang sedang memeriksa keadaan mobil. Saya bahkan terjepit di antara 2 mobil. Lebih parah lagi, punuk kaki saya berada di bawah ban mobil dia.

Rasanya jangan ditanya, so pasti lumayan!

Kesal? Sudah pasti! Memang luar biasa bapak pengemudi yang satu ini, bukannya mundur supaya saya bisa terlepas, dia malah memajukan mobilnya untuk semakin menghimpit saya dan menggiling kaki saya. Syukur akhirnya punuk kaki saya terlepas dari gilingan ban mobil.

Setelah terlepas, untuk melindungi diri dari terhimpit, saya naik ke atas kap mobil bapak ini. Berusaha menahan emosi, saya menghentakkan kaki saya di atas kap mobilnya. Itu masih termasuk menahan emosi, karena waktu itu jujur saja, saya ingin sekali menendang kaca mobilnya.

Singkat cerita, masalah itu diselesaikan oleh kakak dan ibu saya yang memang berada di dalam mobil. Bagian yang paling seru? Saya malah tidak boleh berbicara, tidak didengarkan, dan dilabel sebagai orang yang tidak bisa menahan emosi. Tidak boleh membela diri. Ini melanggar kebutuhan dasar manusia, karena setiap orang ingin didengar dan dimengerti.

Muantep!!!! Jujur, rasanya muanteppp buanget setelah mengalami semua itu!

Tidak terima dengan label sebagai orang yang pemarah, saya membuktikan diri. Sewaktu saya berkuliah di Singapore, saya hampir tidak pernah marah sama sekali. Saya menjadi sangat tenang.

Beberapa waktu kemudian, saya pulang ke kota saya. Di situ saya bertemu dengan seorang pastor. Saya lalu bertanya kenapa seseorang itu bisa marah. Beliau menjawab,* "Sebenarnya emosi itu datang dari kesombongan".*

Jawaban beliau yang singkat dan hanya 1 kalimat ini membuat saya berpikir sepanjang jalan.

Benar, ternyata kita marah karena kita merasa kita tidak pantas diperlakukan seperti itu. Kita tidak terima. Kita merasa kita lebih hebat, lebih kuat, lebih pintar, lebih terhormat, lebih tua dan segala lebih lainnya.

Kita merasa orang yang kita marahi ini tidak profesional, tidak pintar, tidak sabar, lebih kecil, lebih muda, tidak teliti, dll.

Kita merasa tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Seharusnya bisa lebih baik. Akhirnya kita emosi. Karena ada bibit kesombongan dan kurangnya kerendahan hati kita.

Dalam kunjungan saya ke Yogya, saya mendengar kisah bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono pernah naik sepeda ingin masuk ke gerbang kraton. Namun sang penjaga yang tidak mengenali Sang Sultan, dengan kasarnya mengusir beliau dan mengatakan bahwa beliau tidak boleh lewat. Sang Sultan dengan sabarnya beranjak pergi untuk lewat jalan lain. Akhirnya sang pengawal tau juga bahwa orang yang diusirnya adalah rajanya, setelah diberi tau oleh temannya.

Sang Sultan begitu rendah hati. Memang si penjaga hanya menjalankan tugas, namun bagaimana kira-kira perasaan sang penjaga karena telah mengusir rajanya?

Kesombongan adalah kunci dari emosi.

"Pak Ronald, bagaimana cara mengatasi emosi? Saya itu orangnya emosian". Ini salah satu pertanyaan yang paling sering ditujukan ke saya. Di dunia sekarang ini, begitu banyak emosi yang seliweran dan nyamber ke mana-mana.

Cara mengatasi emosi? Segera jauhi sumber emosi, tarik nafas yang dalam, angkat kepala anda, paksa diri anda untuk tersenyum, lalu ucapkan dengan tulus, *"Oh yes.... Terima kasih, Ya Tuhan... terima kasih, Ya Allah...". *Lakukan beberapa kali, dijamin langsung ampuh.

Bagaimana kalau setiap hari anda menemui sumber kemarahan yang selalu ada dan itu-itu saja? Caranya simpel, kalau anda tidak bisa mengubahnya, jauhi sumber kemarahan itu. Simpel, tapi berapa banyak orang yang mau melakukannya? ^____^

Salam DAHSYAT!!!

--
Hendrik Ronald - Authorized TDW

Wanita, Pemimpin Dunia Belanja Baru

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Dalam sebuah meeting di sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Tiga orang hadir dalam posisi kunci : Chief Executive Officer, Chief Financial Officer dan pengawas suprasystem. Entah kebetulan atau apa ketiganya adalah wanita. Meskipun sama-sama wanita, ketiganya berpenampilan berbeda : elegant, sporty dan anggun. Meeting berlangsung sempurna, dan ketika ditutup, mulailah obrolan-obrolan khas wanita memenuhi atmosfir ruangan. Mereka bercerita tentang fashion, produk pelembab, bintang film korea, sampai kepada nilai raport anak-anak mereka. Ternyata kendati memegang posisi menentukan dalam sebuah organisasi, ketiganya juga berstatus sebagai ibu rumah tangga sekaligus..cewek banget!


Seorang teman (yang juga wanita), seorang PhD lulusan luar negeri, berstatus wakil dekan disebuah Perguruan Tinggi Negeri, yang juga berstatus ibu rumah tangga yang harus mengurusi suami dan 2 orang putri. Lalu teman yang lain, yang adalah seorang ibu rumah tangga juga, disamping seorang kartunis (beliau-lah yang melukis kartun dalam novelku "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga". Kemudian beberapa orang wanita, di Bali sana yang berstatus ganda yaitu :ibu rumah tangga(juga) dan pekerja kasar bangunan. Lalu wanita-wanita yang memenuhi menjadi objek fotografi dan memenuhi dunia fashion.


Wanita memang ADA DIMANA-MANA, bahkan memenuhi semua bidang dimana dulu pria bertengger seorang diri.


Tiba-tiba saja aku teringat sebuah buku yang ditulis oleh Marc Gobe, *Emotional Branding*, yang menempatkan wanita, sebagai "Pemimpin Dunia Belanja Baru". Marc Gobe menyimpulkan ada setidaknya 5(lima) elemen penting yang DIINGINKAN wanita dari produk Anda.

1. Respect

Penghormatan. Ini jelas, Dapur dan kasur sudah bukan tempatnya lagi dimana wanita berkubang. Mereka menuntut penghormatan. Dengan istilah lain : wanita adalah ciptaan sempurna. Sedangkan pria, ciptaan coba-coba.

2. Individuality

Walaupun menyandang sebutan umum : "wanita", ternyata mereka masing-masing tidak ingin disamaratakan begitu saja. Peran wanita yang begitu beragam : ibu, istri, pengatur keuangan rumah tangga, karier, bisnis, kecantikan, sexy, fashion, semuanya itu menuntut kita mengenali mereka secara pribadi.

3. Stress relief

Karena wanita sekarang berstatus ganda (ibu RT sekaligus juga sebagai pencari nafkah), maka stress menjadi sebuah bagian yang sulit dihindarkan dari keberadaan mereka. Faktanya : pekerjaan wanita tidak akan pernah selesai.

4. Connection

Emosi adalah faktor utama penggerak wanita. Walaupun semakin banyak wanita mengandalkan rasionalitas, namun emosi(perasaan) tetap memegang faktor penting dalam proses pengambilan keputusan mereka. Bukan angka, namun perasaan didalamnya.

5. Relationship

Mereka menginginkan dialog dan interaksi, dan bukan hanya transaksi bisnis semata. Mereka mencari hubungan dua arah.

Itu versi Marc Gobe, sekarang kita lihat prakteknya dalam dunia nyata.


Perhatikan iklan-iklan produk yang diperuntukkan untuk pria, sebut saja : parfum, mobil, rokok dan susu suplement untuk pria. Walaupun produk itu dikesankan macho, namun tetap wanita memegang peran penting tak tergantikan, yang harus dilibatkan sebagai subjek yang berusaha untuk DIBUAT TERKESAN.

Bahkan dalam pengertian negatif, di negeri tercinta ini, dalam dunia korupsi sekalipun, sekumpulan wanita terlibat disana. Ini tentunya mengidentifikasikan peranan wanita yang kian penting.

Jelas, pendekatan terhadap dunia wanita memang sangat kompleks. Walaupun kompleks, mereka tetap sangat memungkinkan untuk dimengerti dan HARUS kita mengerti, karena apa? Mereka TERLALU PENTING dan TERLALU BANYAK untuk diabaikan. (titik)


Selamat berjuang dan Welcome to The Jungle..! ;)


warm regards,

MTA
Made Teddy Artiana, S. Kom

EMOSI SESAAT

http://emailbisnismarketing.blogspot.com
 


Dengan menggunakan interphone saya bertanya sesuatu kepada satu kolega yang baru saja tiba di ruang kerjanya. Dengan suara gemetar ia berkata:"Maaf pak, saya sedang emosi nih jadi belum dapat menjawabnya sekarang. Saya mau resign!". Saya kaget mendengarnya, namun karena ia menjawab dengan nada masih memendam amarah, maka pertanyaan tak saya lanjutkan. "Pak saya pulang sekarang," ia menyambung kembali melalui interphone, padahal baru jam 10.30. Berarti ada yang tidak beres nih, namun karena bukan urusan saya ya saya kembali bekerja seperti biasa. Namun saat istirahat makan siang saya bertanya kepada teman yang lain tentang tindakan teman yang emosi tadi. Ternyata ia sedang marah bahkan meledak-ledak kepada atasan kami – country director – saat rapat bersama beberapa manajer yang lain. Bahkan ia langsung ke luar ruang rapat tanpa permisi walau rapat belum berakhir.

Sorenya saya telepon dia agar menenangkan diri dahulu dan jangan terburu nafsu untuk resign. Bila perlu besok tak usah masuk bekerja dahulu biar pikiran lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih. Saat itu ia menjelaskan kenapa ia sampai emosi dan meledak di hadapan bos, ia merasa kesal sekali karena merasa telah mengerjakan suatu perencanaan proyek seperti saran atasan namun ternyata dinyatakan salah. Di perusahaan multinational (dari USA) tempat kami bekerja dahulu memang biasa beradu argumentasi antara sesama kolega maupun dengan atasan saat mencari pilihan terbaik dari tindakan yang akan dilaksanakan untuk menuju target. Meski demikian atmosfir keindonesiaan tetap dipakai, karena country director dan anak buahnya semua adalah orang lokal.

Yang bernama emosi memang muncul seketika dan sebenarnya kalau tidak diikuti terus akan reda dengan sendirinya. Terlebih ketika si pemilik emosi mau merenungkan dan menganalisa kejadian itu dengan kepala dingin. Begitu juga dengan teman yang emosi di atas, keesokan harinya ia masuk kerja kembali dengan wajah yang biasa dan sudah hilang emosi di dadanya. Ia sudah dapat bercanda kembali dan tidak lagi ada kata resign di kepalanya. Ia bahkan belum juga pindah kerja meski country director telah hijrah keperusahaan lain, beberapa bulan kemudian.

Bagaimana kalau kita yang mengalami emosi saat berhadapan dengan orang lain? Rasanya sulit untuk tidak menggebrak meja jika dalam pembicaraan ada yang sudah kita anggap keterlaluan. Namun sebaik-baik manusia tetap orang yang dapat meredam emosi tersebut dengan sesegera mungkin. Caranya, dapat ke luar ruangan sambil memikirkan tindakan kelanjutannya yang lebih baik dan bukan meneruskan emosinya kepada benda atau orang lain. Atau mengakhiri pembicaraan dan kemudian mendengarkan musik, menonton acara hiburan di televisi, atau sekedar jalan-jalan di mal hingga aliran adrenalin dirasa menurun. Bagi yang menyukai olah raga dapat melampiaskan tenaga yang terkumpul untuk melakukan gerakan yang melelahkan seperti memukul bola di driving range, berenang, tinju bayangan.

Persembahan
Fikri C. Wardana
Penulis buku sales & marketing dan trainer di
fms training & seminars