Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Pentingnya Financial Literary



Jika Anda jeli memperhatikan, tingkatan seorang pengusaha dapat dikenali dari topik yang sedang mereka bahas.



Bila yang Anda jumpai adalah para pengusaha yang selalu membahas tentang bagaimana cara meningkatkan penjualan, maka kemungkinan Anda berhadapan dengan pengusaha start-up. Karena masalah utama yang selalu di alami perusahaan start-up yaitu penjualan. Jadi, kunci utama untuk survive pada fase ini adalah menguasai ilmu marketing dan penjualan.



Bila mereka selalu membahas tentang bagaimana cara membangun sebuah team dan pencarian orang yang tepat, umumnya Anda sedang berhadapan dengan perusahaan yang sedang Growing (berkembang). Masalah paling utama yang selalu di alami pada fase ini ada di team building. Penguasaan skill leadership yang baik adalah solusinya.



Bila mereka selalu membahas tentang bagaimana cara-cara menjalankan perusahaan, tidak hanya satu, tetapi beberapa perusahaan secara bersamaan, maka sudah pasti Anda berhadapan dengan para pengusaha besar. Dan tahukah Anda apa kunci sukses paling utama ketika di fase ini?



Financial Literary adalah kuncinya. Dalam Financial Literacy bukanlah cerita yang dibahas, tetapi angka, angka dan angka.



Jika Anda paham cara membacanya, dapat dipastikan Anda dapat menguasai dan menceritakan sesuatu banget tentang isi perusahaan.



Jadi, jika suatu saat nanti, Anda ingin menjadi konglomerat atau memiliki berpuluh-puluh perusahaan, maka melek angka keuangan itu mutlak perlu. Anda harus menguasai ilmunya, yaitu financial literacy. Dengan demikian Anda dapat mengetahui isi perut perusahaan. Anda dapat mencecer para pemimpin operasional Anda dengan angka, angka dan angka.



Bila sampai saat ini Anda masih tidak menyukai angka-angka, maka segeralah bertobat, kembalilah ke jalan yang benar sebelum terlambat!



Bisnis adalah permainan angka. Tanpa angka, maka akan seperti bola liar, tidak ada yang dapat Anda kendalikan dalam bisnis yang Anda jalani.





-Johny Rusly-

The Death of Samurai

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.


Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya ke perusahaan China. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).


Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.


Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.


What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.


Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.


Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.


Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).


Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga "keindahan budaya harmoni". Ouch.


Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.


Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.


Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.


Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.


Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.


Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.


Di sini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.


Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.


Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen di atas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.

----
Yodhia Antariksa 

http://strategimanajemen.net/2012/09/03/the-death-of-samurai-robohnya-sony-panasonic-sharp-dan-sanyo

Mantra Pembalik Mimpi Buruk

by sekar ayu



Setiap rencana atau rancangan kebijakan yang dibuat oleh perusahaan selalu memiliki risiko. Meski telah dikalkulasikan sedemikian rupa terkadang ada saja hal-hal yang luput dari perhatian dan akhirnya menjadi pemicu timbulnya krisis.


Salah satu contohnya adalah apa yang terjadi pada Netflix beberapa waktu yang lalu. Perusahaan penyedia layanan streaming internet on-demand ini dikritik keras oleh para subscriber-nya setelah mengumumkan rencana mereka memisah layanan DVD dan streaming serta meluncurkan Qwikster, anak perusahaan yang akan mengelola layanan DVD mereka.


Di saat seperti inilah peran public relations menjadi sangat penting. Mereka harus mengambil langkah yang tepat agar bisa membalikkan kondisi krisis tersebut. Ada beberapa teknik yang bisa diambil untuk menyelamatkan perusahaan dari kondisi yang tidak menguntungkan tersebut.


Meminta maaf

Bila yang terjadi menyangkut keamanan dan kepuasan pelanggan, maka permintaan maaf wajib disampaikan. Permintaan maaf yang tulus akan menyelamatkan perusahaan dari kerugian yang diakibatkan oleh krisis tersebut.


Video permintaan maaf Domino's Pizza adalah salah satu contohnya. Dalam video tersebut Presiden Domino's Pizza, Patrick Doyle meminta maaf kepada para pelanggannya setelah video tak pantas yang direkam oleh salah satu pegawainya beredar dan merusak selera makan para konsumen. Video permintaan maaf ini berhasil meraih simpati publik dan menyelamatkan Domino's Pizza dari kerugian yang lebih besar.


Bereskan Masalah yang Terjadi

Ketika krisis terjadi, jadilah bagian dari solusi. Hal ini merupakan resep klasik untuk keluar dari sebuah kesalahan. Hal inilah yang dilakukan oleh Mattel saat terjadi komplain terhadap kualitas produk mereka. Mattel menerapkan standar baru dengan melakukan inspeksi produk dan audit terhadap para supplier mereka.

Hal yang sama juga dilakukan oleh perusahaan penerbangan, JetBlue. Mereka menerapkan Passenger Bill of Right, semacam rencana penerbangan untuk mengantisipasi terulangnya kejadian penundaan penerbangan yang parah pada Hari Valentine tahun 2008 silam.


Berbagi Pengalaman

Jangan segan-segan berbagi pengalaman buruk dan pelajaran yang didapat dari hal tersebut. Hal tersebut dapat menjadi panduan bagi perusahaan lain dan pada akhirnya memberi dampak positif bagi perusahaan.


Berbisnis Seperti Biasanya

Terkadang publik bereaksi negatif karena keadaan dan bukan karena perusahaan melakukan kesalahan. Bila hal ini yang terjadi, jalanilah bisnis seperti biasanya. Pada waktunya publik akan melihat bahwa perusahaan tidak melakukan kesalahan.


Hal inilah yang dialami oleh Royal Carribean saat terjadi gempa di Haiti. Publik ramai-ramai mengkritik keputusan kapal pesiar tersebut untuk tetap bersandar di Pelabuhan Labadee, Haiti pasca gempa. Namun pada akhirnya para ahli dan penumpang setuju bahwa bersandar di pelabuhan tersebut dan memberikan bantuan kepada para korban adalah hal yang patut dilakukan Royal Carribean.


Balik Melawan

Ketika yakin kesalahan bukan berada di sisi perusahaan, bangkit melawan menjadi hal yang bisa dilakukan untuk mempertahankan citra. Hal inilah yang dilakukan oleh Taco Bell ketika terjadi tuntutan atas dugaan penggunaan daging palsu dalam taco dan burrito mereka oleh konsumen. Mereka merilis respon perusahaan dalam bentuk video, memberikan pernyataan melalui website, hingga melakukan kampanye besar-besaran mengenai kualitas bahan-bahan makanan yang digunakan. Pada akhirnya tuntutan tersebut dibatalkan.


Reaksi publik yang buruk tidak selamanya menjadi mimpi buruk. Dengan kecerdikan dan kearifan perusahaan, kita tetap bisa membalik hal tersebut menjadi hal baik.


(Sumber: www.marketing.co.id)


:: Nchus Assaini ::