Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Repetition Is The Mother Of All Learning

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


"Repetitio mater studiorum est" atau "Repetition is the mother of all learning". Suatu kalimat yang sudah sangat lama sekali ada di muka bumi dan ditemukan terukir di sebuah batu.

Namun saya menemukan bahwa pengulangan bukan saja ibu dari semua keterampilan, namun pengulangan adalah *kunci dari komunikasi yang SANGAT EFEKTIF*.

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah ingin didengarkan dan dimengerti. Sebagai bapak, tentunya ingin didengarkan dan dimengerti. Sebagai bos, karyawan, istri, anak, adik, teman, pacar, suami, istri; semuanya ingin didengarkan dan dimengerti. Betul atau betul?

Maka kita akan sangat senang dengan orang yang mau mendengarkan dan bisa mengerti kita. Saking dahsyatnya perasaan senang ini, biasanya orang yang mau mendengarkan dan bisa mengerti perasaan ini, lanjutannya kita nikahi. Sulit menemukan orang yang bisa dengar & ngerti kita. Kalau ketemu, kita jadikan pasangan hidup kita. "Rasanya bersama dia saya merasa pas. Saya merasa cocok. Dia satu-satunya yang bisa mengerti saya", begitu kira-kira perasaan kita. Betul?

Saat saya berada di airport Batam, seorang anak berkata pada ayahnya, "Ayah, lihat... itu pesawat yang merah terbang!!" Ayahnya merasa malu karena suara anaknya terdengar ke seluruh executive lounge. Maka sang ayah berkata, "Hus, diam! Jangan ribut!" Sang anak berteriak lagi, "Ayah lihattttt, itu pesawat yang warna merah terbang!!", dia malah berteriak makin keras. Sang ayah juga makin panik, "Iya, hussh, diam. Ayo duduk tenang-tenang". Sang anak bukannya diam malahan makin bersemangat teriak lagi.

Sebenarnya sang anak cuma ingin didengarkan dan dimengerti. Dia ingin perasaannya diakui. Bila sang ayah mau MENGULANGI kata-katanya, "Iya adek betul. Pesawat yang warna merah terbang yah...". Maka saya jamin sang anak akan langsung senang dan malah makin 'nemplok' sama ayahnya.

Contoh lain, seorang bos ngomong ke staffnya, "Lantai ini tolong dibersihkan semua dari sisa-sisa minyak yah!" Sang staff cuma ngangguk saja sambil jalan lagi. Maka si bos, akan mengulangi lagi, "Eh, denger ga sih? Saya bilang lantai ini harus bersih dari sisa minyak!" Lalu si staff menjawab, "Iya pak, lantainya dibersihkan dari sisa minyak kan?" Barulah sang bos pergi sambil menggerutu, "Dasar susah dikasih tau!! Masih ngeyel lagi!"

Namun seandainya sang staff mau mengulang lagi saat diberi perintah, "Baik pak. Nanti lantainya akan saya bersihkan dari sisa minyaknya. Terima kasih, pak". Maka sang bos akan langsung senang.

Pengulangan simpel ini begitu kuat makna dan manfaatnya. Namun kita biasanya lebih suka mengangguk saja atau menjawab simpel, "Hmmm" atau "Ho oh".

Padahal dari 100 masalah di dunia, 110-nya adalah masalah komunikasi.

Coba saja kalau anda ke restoran, lalu setelah memesan pelayannya ngeloyor pergi tanpa mengulangi pesanan anda. Bagaimana perasaan anda?

Di dunia sales, mengulangi ini bahkan dinamakan sebagai *jurus porcupine (landak)*. Misalnya customer bertanya, "Ini ada yang warna biru?", maka yang kita lakukan adalah lemparkan kembali pertanyaannya, "Bapak mau yang warna biru?" Dengan demikian saat client menjawab, "Iya, saya mau yang biru", maka dia yang meyakinkan dirinya sendiri untuk membeli warna biru. Kita ga perlu repot-repot meyakinkan client lagi.

Tips ini simpel namun sangat powerful. Praktek yah!!

--
Hendrik Ronald - Authorized TDW

I Love My Guru

http://emailbisnismarketing.blogspot.com
 


"Pak Ronald, dia sudah punya banyak pengalaman lho. Di tempat lamanya dia banyak membuat gebrakan hebat", begitu kata salah seorang client saya. "Iya betul. Itu di tempat lamanya. Dengan semua teman dan suasana lamanya. Di tempat anda nanti belum tentu. Bisa jadi dia kurang bagus, bisa jadi lebih bagus", jawab saya.

Pengalaman seseorang memang sangat penting. Namun yang tidak kalah penting adalah *kemampuan seseorang beradaptasi*. Menyesuaikan diri di tempat yang baru. Di saat kita terpaksa beradaptasi, bertumbuh dan berkembang. Proses bertumbuh ini akan menjadi jauh lebih cepat lagi bila kita mempunyai mentor / guru.

Bila kita jujur, kita sangat banyak berkembang waktu sekolah. Setiap hari kita mendapatkan ilmu baru. Belajar dengan guru yang biasa-biasa saja hasilnya biasa. Belajar dengan *guru yang pintar menyederhanakan* (ini tipe guru paling MANTEP), kita berkembang sangat cepat. Dengan kata lain, salah satu *cara belajar tercepat adalah lewat guru*. Apalagi kalau gurunya pinter!!

Namun saat sekolah sudah selesai, sekarang saatnya bekerja dan jadi sukses!! Namun apa yang terjadi? *GAWAT!!* Ternyata dunia sekolah dan pekerjaan *beda total!* Kita kelimpungan. Kita beradaptasi, kadang dapat guru (teman) yang bagus, kadang dapat guru yang amburadul. Seperti biasa, kalau gurunya amburadul, hasil kerjaan juga amburadul.

Itu baru di kerjaan. Belum lagi mau sukses. Rasanya seperti mimpi saja. Kalau kerja saja begini susahnya, apalagi sukses. Uuugh, banyak dari kita yang putus asa dan sudah membuang mimpi sukses.

HAYOOOOO!!!!! Masih ingat apa resep belajar paling cepat? Pakai guru!! Cari guru yang terbaik!! Berapa banyak dari anda yang masih mau sekolah lagi agar kerjaan jadi bagus? Sedikit? Kenapa ga mau sekolah lagi? Karena mahal?

Kenapa dulu mau sekolah? Karena dipaksa dan DIBAYARIN?!? Kalau ga gratis ga mau sekolah? Mentalitas yang menarik! Sebagian orang memang ada yang dari dulu bayar uang sekolah sendiri. Namun kebanyakan kita sekolahnya dibayarin.

Betul kan? Apa karena dulu dibayarin terus sekarang ga mau belajar lagi kalau bayar sendiri?

Atau alasan klasik lainnya, ga punya waktu?!?

Sebentar, sebentar.... ayo kembali dulu ke awal. Kita berkembang paling cepat saat ada guru (kalau bisa yang terbaik). Pak Tung Desem Waringin (Pelatih Sukses No. 1 di Indonesia) bahkan mengatakannya dengan saat baik, "Sebenarnya rumus kaya itu cuma ada dua. Pertama, apa yang kita masukkan ke kepala kita. Kedua, siapa yang kita kenal".

Lalu kalau boleh nanya sedikit, kalau mau belajar biologi paling bagus sama siapa yah? Sama guru biologi. Betul? Kalau bisa guru biologi yang terbaik. Kalau belajar matematika paling bagus sama siapa? Sama guru matematika kan?

Mau belajar matematika sendiri boleh ga? Silakan, kalau memang nekad, punya otak luar biasa cerdas dan kesabaran tingkat dewa.

Kalau mau belajar sukses sama siapa? Sama sinetron, tabloid gossip, teman sekantor, abang yang suka nongkrong di warung depan atau pelatih sukses?

Mau belajar sukses sendiri boleh ga? Sekali lagi..... Silakan, kalau memang nekad, punya otak luar biasa cerdas dan kesabaran tingkat dewa.

Kalau masih mau alasan, "Mahal", "Saya ga bisa bayar", "Gak ada waktu", dan lain-lain, ya silakan. Apa yang akan terjadi 10 tahun lagi? Mungkin anda masih akan ngomong hal yang sama, "Mahal", "Saya ga bisa bayar", "Gak ada waktu".

Sebenarnya untuk belajar itu gak pernah *"Bisa atau gak bisa, namun mau atau gak mau!!"

Sekali lagi, mau sukses dan berkembang ya cari guru. Cari yang terbaik!!
Jujur, saya bingung kenapa saya masih harus menuliskan fakta jelas ini.

Mungkin ini yang disebut gajah di pelupuk mata tidak kelihatan? Hehhehehehe.

Bagaimana menurut pendapat anda?

PS: Kata "Guru ", selain di Bahasa Indonesia juga ada di Bahasa Inggris.
Sebenarnya sih diambil dari Bahasa Sansekerta.

Salam DAHSYAT untuk anda dari Guru Motivasi & Service!!

--
Hendrik Ronald - Authorized TDW

BELAJAR dari KISAH TEMPAYAN RETAK

http://sukses6minggu.blogspot.com


Seorang ibu yang sudah tua memiliki 2 buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul dipundak dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela & selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya  di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama 2 tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa  pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si "tempayan" yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya & sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya si "tempayan retak" berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai. "Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu." Ibu itu tersenyum, dan berkata "Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?
Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu & setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu. Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga."

Kita semua mempunyai kekurangan, Namun kita harus menjadikan keretakan & kekurangan itu sebagai "berkah" agar hidup kita bahagia dan menyenangkan.

Hikmah yg dapat kita petik dari kisah diatas :
Kadang kita malu, minder dan patah semangat dgn hasil yg tidak maksimal dr pencapaian kita.

Saran semangat adalah : Selama kita bekerja dgn Tekun, Tulus dan bekerja dgn Hati, serta berusaha untuk setiap pekerjaan kita dapat menjadi berkat bg orang lain Maka apa yg tidak maksimal tsb akan menjadi luar biasa.

Happy Selling.

Salam Terang,

Surya

Salah Satu Misteri Terbesar Kita

http://emailbisnismarketing.blogspot.com

 

Sewaktu SMP, saya sangat disayang oleh guru sejarah saya, Bu Linda. Ketika beliau bercerita, khayalan saya akan terbang ke mana-mana. Ketika beliau bercerita tentang Napoleon Bonaparte, saya langsung terbayang seorang jendral besar yang sangat tegas. Walaupun pelajaran sejarah dimulai setelah makan siang, saya tidak pernah merasa ngantuk. Mata saya justru semakin berapi-api.

Tentu saja ada cerita sejarah Indonesia di mana pejuang kita menggunakan bambu runcing untuk melawan penjajah. Mereka tidak punya pilihan lain. *Mereka terpaksa*. Maka apapun yang ada, akan mereka pakai sebagai senjata. Namun saat itupun mereka sudah sadar bahwa bambu runcing ini suatu cara yang inferior, cara yang lemah. Cara yang akan memakan banyak korban. Namun sekali lagi, mereka terpaksa!!

Bila di masa kini, rakyat Indonesia harus berperang, dengan negara apa saja... Kemudian kita ngotot harus tetap memakai bambu runcing, karena dengan cara ini kita pernah menang. Mati konyollah kita!!

Dunia terus berubah. Heraclitus pernah berkata bahwa "The Only Constant Is Change". Satu-satunya hal yang tetap / konstan adalah perubahan. Kita harus terus-menerus merangkul perubahan.

Bila saya disuruh mengingat-ingat kembali ke memori paling awal, saat saya sekolah..... Sewaktu SMA kelas 1, saya diminta untuk membentuk kelompok KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Rasanya, itulah saat saya mulai belajar kerja sama. Jujur..... saya nggak ngerti gimana caranya kerja sama. Saya tidak tau bagaimana caranya delegasi. Saya tidak tau bagaimana caranya komunikasi yang bagus.

Sungguh kelewatan, masa sih sudah kelas SMA 1 tidak tau? Jujur.... saya hanya pura-pura tau!!

Di dunia sekolah kita diminta untuk bekerja sendiri-sendiri. Kita dipisah-pisahkan! Nggak percaya? Coba aja saat ujian anda kerja sama!! Mungkin anda protes, ya wajar donk! Itu kan tes terberat yang menentukan kelulusan. Di dunia kerja, saat menghadapi masalah berat, kita justru dituntut kerja sama.

Padahal dari dulu kita belajar, "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Ke mana prinsip itu perginya? Kenapa sepanjang sekolah kita malah ga diajarkan kerja sama? 1 ekor kuda bisa menarik beban seberat 2 ton. 2 ekor kuda bisa menarik beban seberat 23 ton. Bayangkan betapa hebatnya power kerja sama!!

Bisakah kita membangun bisnis tanpa kerja sama? Tanpa mitra? Mustahil!! Bisakah sukses tanpa partner? Mustahil!! Silakan koreksi bila saya kurang tepat (bahkan untuk menghasilkan artikel yang baik perlu kerjasama dari anda).

Kenapa dari dulu kita tidak diajarkan bekerja sama di sekolah? Kenapa.....?

Bisnis itu gampang, yang sulit itu manusia. Begitu kata ayah Donald Trump.

*"Dari 100 masalah di dunia, 110-nya adalah masalah komunikasi, Ronald"*, begitu kata guru saya yang sangat arif, Huiniati. Artinya semua masalah adalah masalah komunikasi. Ilmu komunikasi itu ternyata *SANGAT AMAT PENTING!!*

Saya belajar banyak tentang ilmu komunikasi. Saya belajar dari ahli-ahli yang terbaik di dunia. Saya belajar ilmu komunikasi dari ahli salesman terbaik sedunia. Dari para pakar hypnosis. Dari ahli negosiasi dan perdamaian. Dari ahli NLP. Dari pakar service terbaik di dunia, dan banyak lagi.

Pada akhirnya, saya bisa menyimpulkan. Ilmu komunikasi itu bila saya simpelkan menjadi 2 kata, intinya adalah "Orang Lain".

Komunikator terbaik tidak hanya pintar berbicara. Dia harus menjadi pendengar yang sangat baik. Penanya yang sangat baik. Orang yang *bisa dan mau berfokus pada orang lain*.

Namun lagi-lagi, rasanya waktu sekolah dulu saya tidak pernah diajarkan cara mendengar. 'Dipaksa' mendengar bisa jadi. Saya diajarkan cara baca puisi dan berpidato. Saya diajarkan mengarang dan menyampaikan ide. Namun tidak pernah diajarkan ilmu mendengarkan.

Padahal ilmu mendengarkan yang berpusat kepada "Orang Lain" ini adalah kunci dari komunikasi. Kunci dari masalah-masalah yang ada di dunia.

Izinkan saya terbang sekali lagi ke zaman dulu. Saat saya kuliah, bablas sudah!! Saya tidak mengerti cara bekerja sama, saya tidak mengerti cara mendengarkan. Yang terus saya gosok dan saya kembangkan adalah "EGO PRIBADI" saya!!!! Saya menyalahkan semua orang. Saya menyalahkan guru saya, papa saya, saudara saya, bos saya, teman saya, dan banyak lagi .

Saya mau didengarkan, saya penuh dengan idealis pribadi, saya tidak perlu kerja sama.

Anda merasakannya juga? Di perusahaan anda ego pribadi tinggi dan juga saling menyalahkan?

Ini berlanjut sampai saya bekerja. Di mana akhirnya saya dihadapkan ke dunia kerja yang ternyata sungguh berbeda. Saya dipaksa menangis, dipaksa sakit, dipaksa merenung. Serasa ditampar dunia.

Ternyata kerja sama itu tidak simpel. Mendengarkan itu jauh dari simpel. Butuh bertahun-tahun untuk menguasai ilmu-ilmu ini. Perlu membaca ratusan buku dan selalu praktek. Perlu ratusan jam seminar. Anda setuju?

Saya bersyukur karena di usia yang relatif (ngakunya) muda ini akhirnya bisa sadar. Namun apakah seluruh orang di dunia juga sadar secepat itu? Bisa SADAR di usia muda? Bahwa mereka perlu kerja sama dan mendengarkan.

Apakah anda sudah sadar? Apakah para manager anda sudah sadar? Atau mungkin anda sendiri baru terbangun setelah membaca artikel ini?

Menurut anda, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk* menolong generasi muda kita?* Apa kita mau membiarkan mereka kembali belajar dengan cara yang seperti itu? Berperang dengan bambu runcing? Apakah kita harus melihat anak-anak kita ditampar oleh dunia? *Apakah mereka harus menangis dan terluka dulu?*

Salam mendengarkan & salam kerja sama!!

--
Hendrik Ronald - Authorized TDW
Trainer
-->

Belajar Istilah Marketing Dengan Mudah Lewat Humor

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


Di dunia maketing, ada banyak istilah-istilah yang bagi sebagian orang sulit memahaminya. Melalui postingan ini, akan dijelaskan istilah marketing lewat sebuah analogi. Tujuannya adalah agar lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh banyak orang, Yuk kita lihat..

1.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!" Itu namanya Direct Marketing.

2.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah kamu, temanmu itu berkata, "Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!" Itu namanya Advertising.

3.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya kamu telepon dia dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!" Itu namanya Telemarketing

4.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, kamu bilang, "By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!" Itu namanya Public Relations.

5.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri kamu dan berkata, "Kamu orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!' Itu namanya Brand Recognition.

6.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!", tapi dia malah menampar kamu. Itu namanya Customer Feedback.

7.Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, "Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!", terus dia memperkenalkan kamu ke suaminya. Itu namanya Demand and Supply Gap.

8.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan langsung berkata, "Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!' Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut. Itu namanya Losing Market Share.

9.Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang, "Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!'.... tiba-tiba istri kamu nongol! Itu namanya Barrier to New Market Entry.
Kamu masuk ke pesta, tiba-tiba sekumpulan gadis saling bisik-bisik "eh lo tau gak jeng, dia org kaya tuh pasti cocok jadi suami" yg lain pada iya-in.. Itu namanya Positive BUZZ Marketing

10.Kamu masuk ke pesta, tiba-tiba sekumpulan gadis saling bisik-bisik"eh lo tau gak jeng, dia org kaya tuh cuma impoten" yg lain pada berubah jadi jijik sambil minggir2.. Itu namanya Negative BUZZ Marketing

11.Kamu masuk ke Pesta, liat cewe cantik, tanpa ba-bi-bu langsung bawain sebotol XO Hennessy dan sebuah gelas kristal Itu namanya Experential marketing

Sumber : Felix Benny, 2010

Salam sukses
Semoga bermanfaat..!

MT. Jintang

SAYA BELAJAR BERTERIAK...

http://emailbisnismarketing.blogspot.com

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orang tua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orang tua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha... ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orang tua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik.." tanya Pak Guru, "Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..".

Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya di rumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah." Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, "..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya..."

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitu pun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

***

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, "berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah. Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki..."

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan? Teman, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru "belajar" memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita..

----
Pramonod (Dewo)

Belajar Branding dari Penjual Nasi Goreng



Judul yang panjang bukan? Namun ada hal menarik memang yang saya ingin ceriterakan. Hari Minggu (10/01), di malam hari, perut saya konser minta pemenuhan bahan pangan. Lalu saya bergegas menuju ke depan jalan untuk menjumpai Penjual Nasi Goreng -ala Mie Surabaya- yang kebetulan dia sudah ada di depan jalan yang jaraknya 50 meter dari kediaman saya.


Untuk menuju kesana saya sudah melewati seorang Penjual Nasi Goreng juga, namun karena saya belum pernah mencoba racikan masakannya -gak mau ambil resiko dong-, saya tetap berjalan menuju tujuan saya semula. Sesampainya disana, sudah terlihat antrian di sekeliling gerobak (berdiri lho!), belum lagi yang sudah memesan terlebih dahulu untuk kemudian mengambil pesanannya. Namun para penggantri dengan setia tetap berdiri menunggu giliran pesanan mereka diselesaikan. Waktu masih menunjukkan pukul 21.00 namun nasi goreng sudah habis. Begitu pula dengan persediaan telurnya.


Setelah mengamati cara si Bapak dalam melayani konsumennya, saya jadi mengerti alasan mengapa dagangan si Bapak ini laris manis.
1. Si Bapak ramah dalam melayani pembeli, dia berbahasa Sunda jika pembelinya adalah dari suku Sunda. Berbahasa Jawa (halus) jika pembelinya berasal dari suku Jawa. Dn berlogat Betawi jika pembelinya diketahui berlogat Betawi. Sebagai sebuah brand, si Bapak mampu mengenali siapa pelanggannya (atau calon pelanggannya) dan menyapa mereka dengan ramah berdasarkan latar belakang mereka. Hal ini menimbulkan kedekatan personal antara brand dengan penggemarnya.
2. Porsi yang diberikan lebih banyak dari Penjual Nasi Goreng lainnya. Jika dibandingkan sekitar 1 1/2 berbanding 1. Sebagai brand, si Bapak memberikan lebih dari standar kuantitas kompetitor lainnya. Dan hal ini disukai banget sama konsumen pada umumnya.
3. Rasanya juga mantap. Nah ini berhubungan dengan kualitas produk. Sebagai brand, si Bapak telah berhasil memennuhi atau memuaskan ekspektasi pelanggannya yang datang kepadanya dengan motivasi mencari 'alat' penghilang rasa lapar yang nikmat namun juga terjangkau.


Jadi brand memang tidak hanya sekedar nama, namun juga harus memiliki karakteristik personal yang positif agar dapat merebut hati 'pasangan' yang dituju.



CMIIW
Salam,Erick Sowong


http://belajarngobrol.blogspot.com