Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label andrie wongso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrie wongso. Tampilkan semua postingan

Rahasia Sebuah Kesempatan



Di suatu pagi di dekat sebuah pasar, nampak seorang pemuda sedang tidur bermalas-malasan. Meski pasar terlihat ramai dengan para penjual dan pembeli yang berlalu lalang, pemuda itu begitu tenang berasyik masyur dengan kemalasannya. Dihadapannya kebetulan lewat seorang pedagang yang telah berhasil menjual barang dagangannya. Pedagang itu nampak heran dengan tingkah laku pemuda tersebut, dihampirinya dan lalu bertanya:



"Wahai anak muda, tidakkah kau lihat pagi begitu indah. Semua orang begitu sibuk berjual beli, lalu mengapa kau menyia-nyiakan waktu dan hanya tidur-tiduran di sini?"



"Aku sedang menunggu kesempatan" Jawab pemuda itu dengan suara malas sambil memicingkan sebelah matanya.



"Memangnya kamu tahu bentuk kesempatan yang sedang kamu tunggu itu?" Tanya pedagang dengan rasa heran.



"Tidak" Jawab pemuda sambil menggelengkan kepala



"Kata orang aku harus menunggu kesempatan datang, baru kemudian nasibku akan bisa berubah menjadi baik. Sehingga aku bisa sukses, bisa kaya, dan bisa memiliki apa saja yang ku inginkan. Oleh karena itulah aku menunggu dengan sabar kesempatan itu datang di sini" Jelas pemuda.



"Kalau bentuknya saja kamu tidak tahu, untuk apa kamu tunggu?" Baiknya kamu ikut bersama ku melakukan hal yang berguna. Pasti kelak nasibmu akan berubah jika kamu mau belajar mengikuti jejakku" Ajak pedagang.



"Ah, banyak omong.... Sudah pergi sana! Jangan mengganggu terus!" hardik si pemuda dengan nada kesal.



Si pedagang pun buru-buru pergi meninggalkan pemuda itu sendirian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.



Beberapa menit setelah pedagang itu pergi, datanglah seorang kakek menghampiri pemuda tersebut. Kakek tua itu masih sempat memandangi langkah kepergian si pedagang. Lalu ia palingkan wajah ke pemuda yang dihampirinya.



"Sudahkah kamu mendapatkan kesempatan yang kamu tunggu di tempat ini dengan tidur bermalas-malasan seperti itu?" Tanya kakek tua yang sempat mendengarkan percakapan tadi.



"Belum" Jawab pemuda dengan nada malas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Bukannya baru saja kesempatan itu menghampirimu? Lalu kenapa kamu usir, bukannya kamu tangkap" Tanya kakek tua.



"Apakah kamu tidak tahu, yang baru saja kamu usir tadi adalah seorang pedagang besar kaya raya dari negeri seberang. Kenapa kamu tolak ajakannya?" Si kakek menerangkan sambil keheranan.



Mendengar penjelasan kakek tua itu, si pemuda seperti baru tersadar bangun dari mimpinya. Lalu Ia pun bergegas bangkit dan berteriak - teriak memanggil si pedagang tadi. Sayangnya pedagang itu sudah terlalu jauh berlalu dari pandangan matanya.



"Tidak ada gunanya teriak-teriak, kesempatan yang kamu tunggu sudah berlalu" Ujar si kakek.



Pemuda itu tampak sedih dan terlihat ingin menangis. Ia begitu tertunduk lesu setelah melewatkan kesempatan yang di tunggu, dan tak tahu harus berbuat apa lagi untuk medapatkannya. Semua penantiannya menjadi sia-sia karena jalan pikirannya yang sempit.



Dibalut rasa iba, kakek tua memberikan nasehat kepadanya "Jika kamu ingin mendapatkan kesempatan, maka cari tahu rahasianya. Yang harus kamu tahu, kesempatan itu takkan bisa kamu tangkap jika kamu tidak mengenalinya. Kesempatan belum tentu datang di saat kamu serius menginginkannya, tapi kadang kesempatan itu datang menghampiri disaat kamu tidak serius. Seperti saat dia datang tadi, kamu tidak mengenalinya, akhirnya dia hanya berlalu begitu saja dan belum tentu akan kembali lagi".



"Lalu, aku harus bagaimana? Apakah seumur hidup aku tidak akan memiliki kesempatan lagi?" tanya si pemuda dengan penuh rasa penyesalan.



"Kakek akan memberitahukan mu satu rahasia lagi. Kesempatan yang datang menghampiri pada setiap orang tidak hanya sekali seumur hidup. Bila kesempatan yang satu telah terlewatkan, suatu saat nanti pasti akan datang kesempatan lain. Yang pasti kesempatan itu tidak datang dengan sendirinya. Kesempatan harus diciptakan dan diperjuangkan." Terang kakek.



"Baiklah, Kek. Aku akan berusaha mencoba mengikuti nasehatmu," janji pemuda.



"Kamu juga harus tahu, tidak ada satu waktu pun yang benar-benar tepat untuk memulai mencari dan menemukan kesempatan. Oleh karena itu, janganlah kamu hanya menunggu. Mulai sekarang, detik ini! Mulailah berusaha, bekerja, berjuang dan kesempatan pasti akan tiba pada waktunya. Dan saat kesempatan tiba di hadapanmu, kamu telah siap menyambutnya." Tambahan nasehat dari si kakek.

Dilingkupi rasa gembira, pemuda itu mengucapkan banyak terima kasih, walaupun terasa penyesalan di dalam hatinya karena sudah melepaskan kesempatan yang ada di depan matanya.



Kadang, kesempatan yang kita temukan dalam hidup tampak sepele sekali. Namun jangan coba meremehkan sekecil apapun kesempatan itu. Suatu pencapaian yang besar justru seringkali diawali dari kesempatan-kesempatan kecil yang biasanya terlewatkan oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang dapat mengenali kesempatanlah yang akan mendapatkan manfaat terbesar darinya. Merekalah yang sering disebut sebagai orang-orang yang beruntung.



--
-Andrie Wongso-

MENEMBUS KETERBATASAN !

http://emailbisnismarketing.blogspot.com

 
Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan di sana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini." Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api.

Aman, dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan? Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!" Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.

Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung.

Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda. Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok." Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.

Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari. Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api itu.

Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi.

Andapun pasti kenal Helen Keller, dengan mata yang buta, tuli dan "gagu" dia mampu lulus dari Harvard University.

Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer.

Begitu pula dengan Nelson Mandela, ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65 tahun.

Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.

Dan banyak contoh lagi lainnya...

Nah, bila anda masih juga terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api...

Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan....


TALK LESS, WAIT LESS, WORRY LESS...., FIGHT MORE, DO MORE., ACTION MORE..!!,

----
Promonod(Dewo)

Untuk Para Istri…Dari Kami **Para** Suami !

by Made Teddy Artiana, S. Kom


Hal ini kudengar langsung dari bibir Bob Sadino, paling sedikit tiga kali. Pertama dihadapan orang banyak, lalu kedua ketika berbincang denganku face to face, dan ketiga di Buku "Belajar Goblok dari Bob Sadino".

Tetapi adegan yang paling berkesan adalah ketika hal itu diucapkannya didepan para pengusaha yang sengaja diundang beliau kerumah. Dan diantara mereka hanya aku undangan yang agak nyeleneh..seorang photographer.


"Kalau kalian berpikir bahwa Bob Sadino hebat, kalian salah besar. Tapi kalian tak sepenuhnya salah, memang seperti itulah yang diangkat oleh media tentang pengusaha nyeleneh bernama Bob Sadino". Ia terdiam sebentar sambil mengusap wajahnya. Lalu melirik kearah dapur, kemudian menatap dengan mesra seseorang. Disana terlihat Mami (istri Om Bob) tengah duduk makan. Kamipun ikut-ikutan melirik kearah yang sama.


"Dia..dia itu..", ujar Om Bob terbata-bata dengan suara berat. Ekspresi wajah haru itu membuat kami hampir tidak berani menatap kearah beliau.

"Dia yang hebat...", lanjut Om Bob sambil menarik nafas panjang dan berat, lalu menghembuskannya perlahan.

"Kalau ketika saya menjadi kuli batu dulu..dia meninggalkan saya..habislah sudah.."


Kali ini Om Bob menunduk hikmat, tangannya kini menggosok lututnya yang telah keriput.

Seisi ruangan sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah hembusan 12 AC yang terpasang di ruangan besar itu. Atmosfir cinta yang kuat memenuhi ruangan itu demikian kuat.


"Without Her.. I'm just like a piece of shit on the table..a big piece of shit on the table !"

Kini tak seorangpun berani menatap Bob Sadino..kami terutama para lelaki tertunduk dalam. Kata-kata tak terduga..


dan jika aku bukan laki-laki pastilah aku sudah meneteskan air mata melihat adegan ini didepan hidungku.

***

Hiruk pikuk sexy dancer sudah mereda, meskipun pesta belumlah usai. Kini laki-laki berdarah Bali itu berdiri tegak

sambil menggenggam mikrofon ditangan kirinya. Kadek Sardjana, seorang owner perusahaan minyak dan gas terkemuka berdiri dihadapan seluruh karyawan dan partner bisnis beliau. Hampir tidak bisa bicara..


"Saya tidak sedang mabuk..". ujarnya perlahan. Cerutu dijari kanannya tampak bergetar, jelas ia sedang berusaha menguasai dirinya sungguh-sungguh.

"Kalian tahu siapa saya..bagi saya kalian bukan karyawan..tapi kalian adalah kawan seperjuangan", sebentar ia menatap mereka satu-persatu.

"Kalian tahu persis baik-buruk saya, dan apa yang telah saya lakukan..saya bukan laki-laki yang sempurna", kembali Kadek menarik nafas dalam-dalam. Wajah laki-laki pemberani itu melembut.

"Tapi saya ingin kalian tahu..bahwa tanpa dia", kini jari kanan itu membuka dan mengarah penuh hormat kearah seseorang di atas sana, Sang Istri Tercinta..

"Tanpa dia..semua ini tidak akan seperti yang kalian lihat sekarang" Kini Kadek Sarjana sedikit menundukkan kepala seolah memberi hormat...

"Honey..aku bukan laki-laki yang sempurna..but I Love You so Much..semua ini untuk mu Honey"


kini ruanganpun bertambah sunyi senyap..tidak ada satupun yang berani bicara atau bertepuk tangan.

Sementara wanita luar biasa diatas sanapun mulai menangis terharu..
dan beberapa saat kemudian pasangan luar biasa itupun tampak berdansa di dance floor dalam remang lampu, dikelilingi karyawan dan undangan.

***

"Mau tahu apa yang saya banggakan ?", tanya Mario Teguh kepada seluruh hadirin yang hadir distudio itu.

"Mau tau apa itu ?", ulangnya sekali lagi.

Kami semua terdiam. Masing-masing memendam pertanyaan besar. Apa yang dibanggakan oleh seorang Mario Teguh ? Pertanyaan yang aneh. Betapa banyak yang dapat dibanggakan oleh seorang Mario Teguh !!!

"Karena ada yang mengangguk..maka saya akan menjawabnya juga", sambung beliau..melihat kebingungan kami. Jelas tak satupun yang betanya, namun Mario memang tak memerlukan pertanyaan..Ia hanya ingin mendelarasi sesuatu.

"Yang paling saya banggakan adalah istri saya..", sambungnya dengan mata berkaca-kaca.

Seluruh hadirinpun bertepuk tangan.

***

"Made..kamu lagi ngapain ??", tanya sesorang diujung telpon sana. Suara yang khas. Suara yang begitu sering kita dengar meneriakkan "Success is my rigth !! Salam Sukses...Luar BIasa !!!!"

Yaa..Andrie Wongso. Beliau menelponku disaat yang tak kuduga sama sekali. Ketika aku sedang bercelana pendek, memotong rumput dan belum mandi. Kami ngobrol sebentar...lalu ketika obrolan kami menyerempet ke keluarga..anak..lalu istri. Iseng saya menanyakan hal ini.."Pak
Andrie..menurut Bapak apa peran istri bagi seorang Andrie Wongso..?"

Seketika itu tokoh yang telah menginspirasi begitu banyak orang itu pun terdiam. Aku tahu hubungan telpon tidak terputus. Motivator Nomer 1 itu memang sengaja diam.

Nyaris lebih dari satu menit.

"Pak Andrie..?", tanyaku hati-hati. Beberapa saat kemudian sebuah suara berat dari Andrie Wongsopun muncul." Iya Made..I hear you..", Andrie kembali terdiam,"Istri..yah...?".

Aku mendengar suara senyuman dari telepon beliau.

"Tanpa istri..Andrie Wongso pastilah bukan Motivator Nomer 1...entah jadi apa dia !!", ujarnya penuh perasaan.

"Made, dialah satu-satunya orang yang begitu tabah mendampingi saya dimasa-masa sulit dulu.."

***

Jelas aku belum sesukses dan sedahsyat tokoh-tokoh diatas..tetapi paling tidak aku tidak akan menunggu terlalu lama untuk mengatakan hal ini kepada istriku, Wida.


"Bagiku, kau seakan dikirim dari surga untukku. Terima kasih telah bersabar dengan seluruh kegilaanku, dan tetap setia mendampingi dan mencintai suamimuini sekian lama, walaupun kau tahu persis aku bukan laki-laki sempurna. Akuhanya ingin kau tahu..bahwa kau sangat berharga bagiku..aku sangat mencintaimu..!" (*)


warm regards,


Made Teddy Artiana, S. Kom