Kliping Email Group

Tampilkan postingan dengan label Hendrik Ronald. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hendrik Ronald. Tampilkan semua postingan

Pandangan Pertama-Awal Penilaian Melekat

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


 

Hanya dalam 2 detik melihat orang terkadang  kita sudah mempunyai kesan tertentu. Baik itu kesan bagus atau kurang bagus. Bagaimana kalau kita melihat dalam 5 atau 10 detik. Apakah dengan waktu yang lebih lama, hasilnya akan berbeda?


Bagaimana kalau kita mengamati orang tersebut selama 3 bulan? Apakah hasilnya akan berbeda dengan penilaian 2 detik tadi? Kita akan menjawab, "TENTU SAJA!!". 3 bulan tadi akan menghasilkan informasi yang lebih banyak dan akurat!


Tidak, hasilnya TIDAK akan berbeda. Penilaian kita terjadi dalam 2 detik pertama. Seorang psikolog dari Harvard, "Nalini Ambady" melakukan survey. Sekelompok murid diminta untuk mengamati sekelompok profesor yang sedang mengajar selama 2 detik. Lalu diminta hasil penilaiannya.


Lalu murid-murid tersebut diminta memperhatikan selama 5 detik dan 10 detik, hasilnya tetap sama. Bahkan Dr. Ambady menunggu sampai akhir semester, lalu meminta penilaian lagi. Hasilnya waktu yang diberikan sampai akhir semester itu memberikan efek yang kecil sekali. Hasilnya tetap sama!


Ada yang mengatakan, efek pandangan pertama itu hanya sekejap saja. Ini kurang tepat, efek pandangan pertama itu abadi.

Kita langsung menilai seseorang dalam seketika dan semua pengalaman kita sesudahnya, kita "cocokkan" / "masukkan" ke dalam penilaian kita tadi.

Detik-detik pertama bertemu client adalah yang MENENTUKAN! Ayo kita latih. Pakai baju yang mendukung, jam yang mendukung, kata-kata yang mendukung. Detik-detik pertama ini yang membentuk detik-detik dan bulan-bulan berikutnya.

Jadilah EXCELLENT untuk detik-detik pertama!

Mau?

--
Hendrik Ronald - Service Excellence Trainer

Sssst...Rahasia Naik Gaji?

http://emailbisnismarketing.blogspot.com



Olimpiade telah berakhir, dan banyak sekali record tercipta, salah satunya yang dilakukan oleh Michael Phelps, yang baru saja dinobatkan sebagai atlit olimpiade terhebat sepanjang masa. Michael Phelps, seorang perenang muda dari Amerika yang mengumpulkan medali paling banyak dibandingkan seluruh atlit olimpiade yang lain yang pernah ada. Kalau saja Michael Phelps memutuskan untuk pindah kewarga-negaraan, saya yakin akan sangat banyak negara yang memperebutkan Michael Phelps.


Saya juga dulu punya seorang bos yang jago sekali motret. Pak Indra Leonardi. Portfolio beliau luar biasa. Paket pernikahan beliau jangan ditanya. Sekitar 8 tahun yang lalu saja, kalau tidak salah harga beliau tidak pernah di bawah 50 juta untuk 1 kali motret.

Saya juga mempunyai mentor dahsyat, Pak Tung Desem Waringin. Yang untuk 3 jam mengajar saja bayarannya bisa $10.000.

Mereka ini orang-orang yang sangat ahli di bidangnya dan dibayar sangat mahal.

Sebenarnya prinsip berpenghasilan besar itu cukup simpel. *Bila anda bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, maka anda dibayar mahal*. Seandainya saja Michael Phelps memutuskan untuk berhenti berenang lalu melanjutkan karir sebagai montir mobil, saya yakin bayaran beliau juga turun drastis.

Seandainya saja Pak Indra Leonardi menggantungkan kameranya lalu menjadi koki, bayaran beliau tidak akan sebaik sekarang. Begitu pula dengan Pak Tung Desem Waringin. Kalau mereka mengerjakan apa yang bisa dikerjakan orang banyak, bayaran mereka juga seperti orang banyak.

Nah, ayo kembali ke kita. Kebanyakan orang punya dua masalah besar. Pertama, tidak cukup penghasilan. Kedua, tidak cukup waktu. Ayo ngaku, betul?

Keduanya bisa diatasi kalau seandainya kita *mau mengubah cara berpikir*. Orang sukses itu cara berpikirnya memang SANGAT berbeda. Mereka fokus ke 1 hal yang betul-betul membuat mereka sukses.

Fakta menariknya, *3 pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari membawa 90% hasil*. Maka fokuslah pada 3 pekerjaan ini. Datang ke meja bos, lalu katakan bahwa anda ingin sungguh-sungguh fokus pada 3 pekerjaan besar. Bila berhasil dan perusahaan tambah untung, tolong naikkan gaji anda. Mintalah pekerjaan anda yang lain untuk disingkirkan, didelegasikan atau ditunda. Fokus kepada kerjaan yang menghasilkan paling banyak.

Ini sungguh saya praktekkan sendiri, bukan hanya om-do (omong doank).

Bersihkan meja anda dari segala data yang tidak perlu, hanya letakkan materi yang anda butuhkan. Sehingga anda fokus. Michael Phelps fokus. Indra Leonardi fokus. Tung Desem Waringin fokus.

Lepaskan pekerjaan yang remeh-temeh. Kerjakan apa yang orang lain tidak bisa kerjakan dan membawa hasil sangat besar. Fokus di sana. *Nah, apakah anda berani mencoba?* Di sini pertanyaannya bukan bisa atau tidak bisa, tapi berani atau tidak berani.

Seorang sahabat saya mengatakan, *"It's the idea that's scary, not the reality* (Ferdy Nando CT. NLP)". Yang mengerikan itu di pikiran saja, realitanya baik-baik saja.

Nah sekarang, beranikah Anda mencoba mengubah nasib sendiri? Ayoooo, B-E-R-A-N-I-???

Salam DAHSYAT!!

--
Hendrik Ronald - Authorized TDW Master

Beware Of Common sense

http://emailbisnismarketing.blogspot.com


 
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa common sense itu adalah "Koleksi praduga yang kita kumpulkan sampai umur 18 tahun". Salah satu contoh common sense yang paling fatal adalah memasukkan kuda trojan ke dalam kota. Common sense sering kali bisa melindungi kita dari kesalahan fatal, yang tidak bisa diberikan oleh common sense adalah membuat breakthrough!!

Saya juga ingin membahas tentang 'Rule Of Exercise'. *Perusahaan yang bergerak akan cenderung terus bergerak*.

Yang terus menerus "bangga dengan kejayaan masa lalu, akan memudar, semakin lemah dan mati muda". Yang memperparah keadaan, tidak bergerak itu pertama-tama tidak pernah kelihatan buruk, karena tidak ada kesalahan yang dibuat. Kita menunggu sampai teori kita benar dan tidak ada kesalahan.

Hasilnya, tidak bergerak akan semakin membuat kita tidak bergerak. Karyawan akan menjadi santai juga. Tidak lagi menghadapi tantangan dan posisi baru. Karyawan yang tadinya selalu action-pun menjadi santai. Vitalitas perusahaan langsung menurun. Kita berhenti, lalu malah menjadi mundur.

Jadi hukum exercise atau olahraga juga berlaku untuk perusahaan!

Janganlah menunggu sampai ada jaminan bahwa kita akan sukses. Sejak zaman Nabi Nuh sampai sekarang, tidak ada yang bisnis yang digaransi sukses.

Kesuksesan masa lalu adalah kesuksesan masa lalu, bukan jaminan kesuksesan di masa depan!!

Ayo take action - karena dengan melakukan kita akan belajar.

"Belajar barangkali adalah aset bisnis yang paling penting"!

Ayo take action!!

--
Hendrik Ronald  - Autorhized TDW

Berbisik Di Tengah Badai

http://emailbisnismarketing.blogspot.com



Informasi yang kita terima "sudah mulai overload". New York Times memperkirakan, "kita terekspos ke sekitar 3.200 pesan komersial setiap hari". Di jalanan, di halte, di news ticker TV, dll. Tahun 2003 saja dalam "1 tahun record companies mengeluarkan 21.000 judul lagu". Siapa yang bisa mengikuti perkembangannya? Tidak ada!


Bagaimana band yang lagunya bagus sekalipun, tanpa didukung oleh promo yang besar bisa masuk ke retailer, stasiun radio, dan CD-nya bisa laris? Sulit sekali. "Overload (kelebihan beban)."


Karena pilihan yang semakin membanjir, orang tidak akan bisa tau dan mengerti semua pilihan yang ada. Maka customer mulai memilih yang "paling bisa dipercaya dan kompeten atau tidak memilih sama sekali".


Ada analogi yang baik, bila kita berkenalan dengan 1 orang di pesta, kita akan mencoba mengingat namanya. Namun bila kita berkenalan dengan 6 orang sekaligus, kita hanya akan mengangguk mendengarkan suara yang masuk ke telinga kita.


Jadi kalau kita tidak bisa memecah 'keramaian' ini dan masuk ke dalam hati prospek kita, ini layaknya *berbisik di saat badai.*


Semakin lama semakin banyak pilihan dan semakin kompleks. Di dalam hukum fisika dikatakan bahwa "setiap aksi menghasilkan reaksi". *Situasi yang semakin kompleks membuat kita semakin ingin mencari 'simplicity'*. Dulu tidak ada yang perduli dengan simplicity. Sekarang siapa yang menginginkan simplicity? *Semua orang**!* ini bisa kita lihat juga contohnya di berbagai produk Apple. misalnya iPad, iphone yang hanya mempunyai 1 tombol.


Sekarang semua orang berbicara dan kita tidak akan bisa mendengar. Jadi :

1. "Jangan berbicara disaat semua orang berbicara". Beriklanlah di tempat yang lebih efektif di mana pesan anda akan terdengar.
2. "Sampaikan sedikit". 1 buah poin bisa masuk lebih dalam
3. "Sampaikan secara visual". seringkali kita tidak bisa mendengarkan begitu banyak suara, tapi kita bisa memperhatikan gambar dengan lebih mudah apalagi yang menarik.
4. "Pastikan setiap kata-kata berharga", bila orang sadar bahwa kita banyak ngomong dan tidak ada isinya mereka akan berhenti mendengarkan.

Kesimpulan: untuk bisa didengarkan kita harus bisa mengatakan sesuatu yang berbeda, simple, dan visual.

Dikutip dan disempurnakan dari buku 'Harry Beckwith – What Customers Love'


--
Hendrik Ronald - Authorized TDW

Anda Emosi? Itu Artinya Masih Normal!

http://emailbisnismarketing.blogspot.com

 

Waktu itu saya baru saja pulang beribadah. Semua mobil sedang berhenti karena lampu merah sedang menyala. Mobil saya baru saja keluar dari sebuah gang kecil. Namun ada mobil yang merasa tersinggung karena 'kepala' mobil saya menghalangi jalurnya. Bukannya antri, beliau nekad menabrakkan mobilnya ke mobil saya. Seolah-olah puas setelah menabrak, dia kembali memundurkan mobilnya.

Saya turun dan melihat kondisi mobil saya. Kali ini dia melakukan hal yang lebih keterlaluan lagi. Dia menabrak saya yang sedang memeriksa keadaan mobil. Saya bahkan terjepit di antara 2 mobil. Lebih parah lagi, punuk kaki saya berada di bawah ban mobil dia.

Rasanya jangan ditanya, so pasti lumayan!

Kesal? Sudah pasti! Memang luar biasa bapak pengemudi yang satu ini, bukannya mundur supaya saya bisa terlepas, dia malah memajukan mobilnya untuk semakin menghimpit saya dan menggiling kaki saya. Syukur akhirnya punuk kaki saya terlepas dari gilingan ban mobil.

Setelah terlepas, untuk melindungi diri dari terhimpit, saya naik ke atas kap mobil bapak ini. Berusaha menahan emosi, saya menghentakkan kaki saya di atas kap mobilnya. Itu masih termasuk menahan emosi, karena waktu itu jujur saja, saya ingin sekali menendang kaca mobilnya.

Singkat cerita, masalah itu diselesaikan oleh kakak dan ibu saya yang memang berada di dalam mobil. Bagian yang paling seru? Saya malah tidak boleh berbicara, tidak didengarkan, dan dilabel sebagai orang yang tidak bisa menahan emosi. Tidak boleh membela diri. Ini melanggar kebutuhan dasar manusia, karena setiap orang ingin didengar dan dimengerti.

Muantep!!!! Jujur, rasanya muanteppp buanget setelah mengalami semua itu!

Tidak terima dengan label sebagai orang yang pemarah, saya membuktikan diri. Sewaktu saya berkuliah di Singapore, saya hampir tidak pernah marah sama sekali. Saya menjadi sangat tenang.

Beberapa waktu kemudian, saya pulang ke kota saya. Di situ saya bertemu dengan seorang pastor. Saya lalu bertanya kenapa seseorang itu bisa marah. Beliau menjawab,* "Sebenarnya emosi itu datang dari kesombongan".*

Jawaban beliau yang singkat dan hanya 1 kalimat ini membuat saya berpikir sepanjang jalan.

Benar, ternyata kita marah karena kita merasa kita tidak pantas diperlakukan seperti itu. Kita tidak terima. Kita merasa kita lebih hebat, lebih kuat, lebih pintar, lebih terhormat, lebih tua dan segala lebih lainnya.

Kita merasa orang yang kita marahi ini tidak profesional, tidak pintar, tidak sabar, lebih kecil, lebih muda, tidak teliti, dll.

Kita merasa tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Seharusnya bisa lebih baik. Akhirnya kita emosi. Karena ada bibit kesombongan dan kurangnya kerendahan hati kita.

Dalam kunjungan saya ke Yogya, saya mendengar kisah bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono pernah naik sepeda ingin masuk ke gerbang kraton. Namun sang penjaga yang tidak mengenali Sang Sultan, dengan kasarnya mengusir beliau dan mengatakan bahwa beliau tidak boleh lewat. Sang Sultan dengan sabarnya beranjak pergi untuk lewat jalan lain. Akhirnya sang pengawal tau juga bahwa orang yang diusirnya adalah rajanya, setelah diberi tau oleh temannya.

Sang Sultan begitu rendah hati. Memang si penjaga hanya menjalankan tugas, namun bagaimana kira-kira perasaan sang penjaga karena telah mengusir rajanya?

Kesombongan adalah kunci dari emosi.

"Pak Ronald, bagaimana cara mengatasi emosi? Saya itu orangnya emosian". Ini salah satu pertanyaan yang paling sering ditujukan ke saya. Di dunia sekarang ini, begitu banyak emosi yang seliweran dan nyamber ke mana-mana.

Cara mengatasi emosi? Segera jauhi sumber emosi, tarik nafas yang dalam, angkat kepala anda, paksa diri anda untuk tersenyum, lalu ucapkan dengan tulus, *"Oh yes.... Terima kasih, Ya Tuhan... terima kasih, Ya Allah...". *Lakukan beberapa kali, dijamin langsung ampuh.

Bagaimana kalau setiap hari anda menemui sumber kemarahan yang selalu ada dan itu-itu saja? Caranya simpel, kalau anda tidak bisa mengubahnya, jauhi sumber kemarahan itu. Simpel, tapi berapa banyak orang yang mau melakukannya? ^____^

Salam DAHSYAT!!!

--
Hendrik Ronald - Authorized TDW